
SEBANYAK 146 warga yang mayoritas anak-anak di perumahan berinisial SL, di kawasan Serpong, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), dilaporkan mengalami gejala muntah dan diare (muntaber) dalam rentan waktu bersamaan sejak 14 September hingga 12 Oktober 2026. Warga menduga pemicu utama wabah ini berasal dari kontaminasi pasokan air yang dikelola melalui teknologi Water Treatment Plant (WTP)
Berdasarkan pendataan mandiri melalui formulir digital yang dibuat oleh warga hingga Selasa (13/10), ada 146 orang yang mayoritas adalah anak-anak mengalami gejala muntah, diare, dan demam. Puluhan di antaranya dilaporkan menjalani rawat inap.
“Ini terjadi dalam waktu bersamaan dan merata di enam klaster yang ada di perumahaan,” kata Arnis Silvia, salah satu warga.
“Bahkan ada bayi usia 11 bulan harus dirawat,” lanujut dia.
Merebaknya kasus ini mendorong warga berinisiatif menghubungi Dinas Kesehatan Tangerang Selatan, pihak kelurahan, dan puskesmas untuk meminta penanganan lebih lanjut.
Petugas dari instansi terkait telah mengambil sampel air dari sejumlah rumah penghuni untuk diuji di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan sumber masalah.
“Hasil laboratorium kabarnya baru keluar Jumat (16/10),: kata dia.
Meski hasil uji air masih menunggu Labkesda, indikasi kontaminasi diperkuat oleh hasil pemeriksaan medis anak-anak yang dirawat. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium feses dan keterangan dokter rumah sakit, ditemukan adanya infeksi bakteri Escherichia coli (E. coli), Salmonella, serta infeksi Rotavirus.
Ia mengatakan Infeksi bakteri seperti E.Coli, Salmonella dan Rotavirus pada saluran pencernaan lazimnya menyebar melalui sumber yang tercemar, seperti air atau makanan, atau melalui kontak antarorang.
“Anak-anak ini tersebar di puluhan rumah yang jaraknya tidak berdekatan. Katering dan sekolahnya juga beda-beda,” kata Arnis menepis kemungkinan adanya penyebaran melalui kontak antarorang.
Warga menduga sumber pencemaran berasal dari danau di kawasan perumahan dengan inisial SL yang diolah melalui sistem WTP sebelum dialirkan ke rumah-rumah untuk kebutuhan harian seperti memasak, mencuci (termasuk peralatan makan dan bahan makanan), mandi, sikat gigi dan keperluan kebersihan lainnya.
Berdasarkan dokumentasi warga, tampak area tebing danau digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, sementara sebuah pipa yang diduga menjadi saluran pembuangan air rumah tangga terlihat bermuara ke danau tersebut.
Temuan dan kesaksian warga ini menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi pencemaran sumber air. Namun, dugaan tersebut masih perlu diverifikasi melalui pemeriksaan kualitas air dan penelusuran sumber pencemaran oleh instansi berwenang.
“Kami sudah beberapa kali bersurat ke pengembang maupun pihak penyedia pasokan air. Tapi belum ada solusi. Ini sudah banyak korbannya, satu sisi di sini juga butuh air dalam kondisi darurat seperti ini,” kata dia.
Ia mengataan penghuni tidak memiliki pilihan penyedia lain yang setara termasuk belum tersedianya layanan PDAM di kawasan tersebut.
Hingga berita ini ditulis, pihak pengembang maupun pengelola pasokan air belum memberikan tanggapan resmi. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, dr. Allin Hendalin Mahdania, juga belum merespons pesan yang dikirim Media Indonesia.
Dipanggail DPRD
Semenntara itu, kasus ini mendapat perhatian dari DPRD Tangerang Selatan. Perwakilan warga, pengembang dan penyedia air bersih rencananya akan dipanggil dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi II DPRD Tangsel, Rabu (14/10).
“Iya besok,”kata Ketua Komisi II DPRD Tangerang Selatan, Ricky Yuanda Bastian kepada Media Indonesia.
(P-4)
