Menag: Kesadaran Ekonomi Syariah Indonesia Baru 7,5 Persen, Tertinggal dari Malaysia
Menag Nasaruddin Umar dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Baznas 2026 di Jakarta, Selasa (13/10).(MI/Despian Nurhidayat)

MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa kesadaran ekonomi syariah di Indonesia saat ini baru mencapai 7,5%. Meski mengalami kenaikan dari dua tahun lalu yang hanya 5%, angka tersebut dinilai masih tertinggal jauh dibandingkan Malaysia yang telah mencapai 67%.

Hal tersebut disampaikan Menag dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Baznas 2026 di Jakarta, Selasa (13/10). Nasaruddin menekankan perlunya pembenahan serius, terutama pada jalur formal pengelolaan zakat. Saat ini, dari 28,5% total penduduk yang merupakan muzaki, baru sekitar 12% yang menyalurkan zakat melalui lembaga formal.

“Ada yang perlu kita benahi dari segi kelembagaannya di jalur formal. Literasi zakat juga masih terfokus pada zakat mal, padahal kita punya potensi besar di sektor wakaf emas, pertanian, hingga pertambangan yang belum terjangkau maksimal oleh Baznas,” ujar Nasaruddin.

Menanggapi hal tersebut, Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menyatakan pemerintah tengah mengkaji ulang regulasi terkait Baznas. Fokus utamanya adalah menyempurnakan UU Nomor 23 Tahun 2011 guna mengintegrasikan pengelolaan zakat ke dalam sistem negara tanpa menghilangkan peran aktif masyarakat.

“Kita cari jalan tengah agar zakat tidak sekadar menjadi seperti pajak yang ditarik negara sehingga rakyat merasa tertinggal. Kami terbuka terhadap gagasan baru untuk memperkuat posisi Baznas,” kata Yusril.

Di sisi lain, Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid menetapkan target ambisius pengumpulan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) sebesar Rp70 triliun pada tahun 2027. Target ini naik dari sebelumnya Rp66 triliun dan akan didukung oleh 13 program prioritas, mulai dari Baznas Siaga Kemiskinan hingga bantuan permodalan berbasis masjid.

Ketua MPR RI Ahmad Muzani menambahkan, target Rp70 triliun tersebut realistis jika melihat potensi ekonomi Indonesia. Namun, ia mengingatkan pentingnya kolaborasi dan kepercayaan publik di tengah tantangan penurunan daya beli masyarakat saat ini. “Baznas perlu gebrakan untuk terus mengingatkan masyarakat akan peran lembaga ini dalam mengelola dana umat,” pungkasnya.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *