Belajar Bahasa Baru Bantu Latih Kemampuan Kognitif Anak
Ilustrasi(magnific)

MEMPELAJARI bahasa baru tidak hanya menambah perbendaharaan kosakata anak. Aktivitas ini juga dapat membantu melatih kemampuan kognitif, termasuk memahami pola, menghubungkan informasi, serta beradaptasi dengan konsep baru.

Psikolog anak, remaja, dan keluarga Ayoe Sutomo menyampaikan bahwa proses belajar bahasa melibatkan lebih dari sekadar menghafal kata. Anak juga dilatih untuk mengenali struktur, memahami konteks, dan mengaitkan informasi yang diterima.

“Dalam berbagai penelitian, kemampuan-kemampuan ini berkaitan dengan berkembangnya fleksibilitas berpikir yang menjadi pondasi penting dalam proses belajar dan pemecahan masalah sehari-hari,” kata Ayoe, dikutip Kamis (25/6).

Menurut riset yang dikemukakan Duolingo, belajar bahasa secara rutin membuat otak terus bekerja untuk memanggil kembali informasi, mengenali pola, berpindah dari satu konsep ke konsep lain, serta menyesuaikan diri dengan aturan linguistik baru. Rangkaian aktivitas tersebut disebut dapat berfungsi layaknya olahraga mental.

Melibatkan Banyak Fungsi Otak

Belajar bahasa baru melibatkan berbagai fungsi otak secara bersamaan. Anak tidak hanya mengingat kosakata, tetapi juga menggunakan perhatian, penalaran, kemampuan memecahkan masalah, hingga pengambilan keputusan.

Aktivitas seperti mengenali pola bahasa, memahami konteks kalimat, dan mengingat kosakata secara berulang dapat menjadi bentuk stimulasi mental. Jika dilakukan secara konsisten, kegiatan ini dapat membantu melatih kemampuan kognitif anak dalam proses belajar sehari-hari.









Aspek yang Dilatih Peran dalam Belajar Bahasa
Daya ingat Membantu anak mengingat kosakata, arti kata, dan struktur kalimat.
Perhatian Melatih anak fokus pada bunyi, makna, dan konteks penggunaan bahasa.
Penalaran Mendorong anak memahami pola bahasa dan hubungan antar-informasi.
Fleksibilitas berpikir Membantu anak beralih dari satu konsep ke konsep lain dan menyesuaikan diri dengan aturan baru.
Pemecahan masalah Melatih anak memilih kata, memahami makna, dan menggunakan bahasa sesuai konteks.

Studi Baycrest dan York University yang dikemukakan dalam siaran pers tersebut menunjukkan orang dewasa yang menggunakan Duolingo sekitar 30 menit sehari selama empat bulan memperlihatkan peningkatan terukur pada fungsi eksekutif dan performa kognitif mereka.

Manfaat tidak Muncul Secara Instan

Meski memiliki manfaat bagi perkembangan kognitif, Ayoe menekankan bahwa hasil dari belajar bahasa tidak muncul secara instan. Keberhasilan anak dalam mempelajari bahasa baru dipengaruhi oleh konsistensi, frekuensi belajar, serta pengalaman belajar yang menyenangkan.

Dengan kata lain, proses belajar yang dilakukan sedikit demi sedikit tetapi rutin lebih berpeluang membantu anak mendapatkan manfaat. Lingkungan belajar yang mendukung juga penting agar anak tidak merasa terbebani.

Selain manfaat kognitif, kemampuan menggunakan lebih dari satu bahasa juga dapat memberikan keuntungan akademis. Anak dapat memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal beragam budaya, perspektif, dan cara berkomunikasi.

Perlu Pendampingan Orangtua

Perangkat digital dapat menjadi salah satu sarana untuk mendukung anak mempelajari bahasa baru. Aplikasi atau platform belajar bahasa dapat membantu anak berlatih secara lebih interaktif dan rutin.

Namun, penggunaan perangkat digital tetap memerlukan pendampingan orang tua. Pendampingan diperlukan agar anak menggunakan teknologi secara tepat, durasi belajar tetap seimbang, dan pengalaman belajar berlangsung aman serta menyenangkan.

Dengan konsistensi, metode yang sesuai, dan dukungan keluarga, belajar bahasa baru dapat menjadi aktivitas yang tidak hanya memperkaya kemampuan komunikasi anak, tetapi juga membantu menstimulasi perkembangan kemampuan berpikirnya. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *