Psikolog Bagikan Cara untuk Memutus Hubungan tak Sehat dan Berbahaya
Ilustrasi.(Magnific)

SEORANG perempuan menjadi korban penganiayaan dan penyekapan di Kabupaten Bandung oleh kekasihan. Ia mengalami luka hingga cacat permanen. Psikolog klinis Dra. A. Kasandra Putranto menyampaikan hubungan yang tidak sehat bahkan cenderung membahayakan sebaiknya diakhiri, meskipun hal itu pada pratiknya tidak selalu mudah bahkan saat seseorang mengenali tanda-tanda bahayanya. 

“Ketika sebuah hubungan menunjukkan banyak tanda bahaya, terutama jika sudah mengarah pada perilaku agresif, mengontrol, mengintimidasi, atau membuat seseorang merasa takut, maka keselamatan diri perlu menjadi prioritas utama,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia itu, dikutip Kamis (25/6).

Lebih jauh, Kasandra mengatakan apabila pasangan mengancam, berkelakuan agresif, menguntit, atau menunjukkan perilaku yang tidak stabil secara emosional, dalam memutuskan hubungan dilakukan di lingkungan yang aman serta perlu ada dukungan orang yang dipercaya. 

Ia menyarankan agar individu yang bersangkutan sebaiknya membangun sistem pendukung sebelum memutuskan hubungan yakni memberitahukan rencananya kepada keluarga, teman dekat, atau orang yang dapat dipercaya.

Sebab, kata Kasandra, pasangan yang punya kecenderungan sifat mengontrol akan berusaha membuat pasangan merasa kesepian dan sangat bergantung padanya.

Selain itu, dalam hubungan yang tak sehat korban sering kali kesulitan untuk mengambil keputusan secara mandiri, termasuk keputusan untuk mengakhiri hubungan tersebut.

“Korban yang ada dalam hubungan yang mengandung unsur kontrol koersif sering kali mengalami penurunan rasa percaya diri dan merasa sulit mengambil keputusan secara mandiri,” ucap dia.

Oleh karena itu, individu ini memerlukan dukungan sosial dari keluarga atau orang-orang dekat. Ia menyarankan agar ketika ada tanda-tanda hubungan tak sehat dari pasangan, sebaiknya individu melakukan konseling dengan tenaga profesional. Dengan demikian masalah dalam hubungan itu bisa dipahami. Korban yang terjebak dalam hubungan tak sehat mendapat kepercayaan diri dan cara menyusun rencana untuk mengakhiri hubungan.

Ia juga menegaskan bahwa perlunya individu yang ingin mengakhiri hubungan yang tidak sehat menetapkan batasan secara jelas dan tegas.

“Tanpa memberikan harapan yang ambigu jika memang keputusan sudah final,” terang Kasandra. Sikap tegas dan jelas ini, terang dia, dapat mengurangi kemungkinan pasangan melakukan manipulasi emosional dalam upaya untuk mempertahankan hubungan yang tidak sehat.

Sebab, dalam beberapa kasus, pasangan yang agresif dapat menggunakan rasa bersalah, ancaman, atau janji untuk mempertahankan hubungan. Korban, ujar Kasandra, lebih baik fokus pada keselamatan dirinya. (Ant/H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *