
DI tengah ketegangan serangan udara antara pasukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran awal tahun ini, seorang peternak ayam di Israel utara mengalami kejadian ganjil. Saat memeriksa aplikasi kamera pemantau (webcam) di kandang ayamnya, ia mendapati bahasa pada aplikasi tersebut telah berubah menjadi bahasa Arab. Investigasi dari Direktorat Siber Nasional Israel mengungkap bahwa peretas telah mengambil alih kamera buatan Tiongkok tersebut.
Para peretas tidak tertarik pada ayam. Posisi kamera yang strategis memberikan pandangan langsung ke pergerakan pasukan keamanan Israel di sepanjang perbatasan Libanon. Insiden ini menjadi potret nyata perangkat sipil kini dikonversi menjadi alat pengumpulan intelijen medan perang.
Mata Digital di Mana-Mana
Menurut konsultan keamanan siber S-RM, terdapat sekitar 1,2 miliar kamera yang terhubung ke internet di seluruh dunia. Perangkat ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari sistem keamanan rumah, bel pintu, kontrol lalu lintas, hingga monitor bayi. Namun, para ahli memperingatkan bahwa setiap perangkat tersebut rentan terhadap penyusupan.
“Kita sekarang melihat konversi pengawasan sipil menjadi pengumpulan intelijen masa perang,” kata Alexander Leslie, pakar keamanan nasional di Recorded Future. Ia menyebut keberadaan mata digital ini sebagai titik lemah global yang sangat terbuka.
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin memperburuk situasi. AI memudahkan peretas untuk menganalisis data video dalam skala besar, mengubah kamera yang dirancang untuk keselamatan menjadi alat tempur untuk melacak dan menyerang musuh. Algoritma kini mampu mencerna rekaman tanpa henti untuk menemukan pola yang mungkin terlewatkan oleh analis manusia.
Teropong Virtual di Medan Tempur
Dalam perang Rusia-Ukraina, kedua belah pihak secara masif meretas kamera untuk memata-matai target dan menilai kerusakan akibat serangan. Di Ukraina, dinas keamanan SBU mengidentifikasi dan mengamankan sekitar 40.000 kamera video yang dianggap berisiko sejak invasi Rusia tahun 2022. Rusia dilaporkan menggunakan akses ilegal ke sistem pengawasan video untuk menyesuaikan serangan rudal agar lebih presisi.
Di Timur Tengah, taktik serupa digunakan. Pakar keamanan siber Israel, Eliav Noori, menjelaskan bahwa pihak lawan memanfaatkan kamera yang terpapar internet sebagai “titik pengintai” karena mereka tidak bisa menggunakan teropong fisik dari jarak jauh. Kelompok yang berafiliasi dengan Iran dilaporkan telah meretas lebih dari 250 kamera keamanan sensitif di Israel tahun ini, termasuk pembaca pelat nomor dan kamera di dekat pos militer strategis.
Lebih Efektif dari Mata-Mata Manusia
Kamera yang diretas kini mengambil alih peran yang sebelumnya dilakukan oleh pengintaian udara atau agen lapangan. Menembus kamera yang ditempatkan dengan baik memberikan risiko yang lebih kecil dibandingkan mengirim agen rahasia ke wilayah musuh. Kamera-kamera ini beroperasi secara diam-diam, sering kali di area terlarang, dan mampu memperpendek siklus pengambilan keputusan militer secara signifikan.
Selain untuk kepentingan taktis, peretasan ini juga digunakan untuk perang urat syaraf (mind games). Kelompok peretas sering kali mengunggah rekaman hasil retasan untuk menunjukkan superioritas intelijen mereka atau mengganggu komunikasi internal musuh, seperti yang dilakukan peretas Ukraina yang menyusup ke dalam konferensi video pejabat kementerian Rusia.
Banyak perangkat IoT seperti kamera memiliki perlindungan bawaan yang minim dan jarang diperbarui. Sering kali, tim fasilitas yang memasang kamera tidak memiliki kesadaran keamanan siber yang cukup. Hal ini memperluas permukaan serangan (attack surface) bagi peretas, saat kamera bukan hanya menjadi target, tetapi juga pintu masuk untuk membobol seluruh jaringan lokal organisasi.
Kekhawatiran ini mendorong beberapa negara Barat untuk melarang merek kamera tertentu yang dianggap mudah diretas atau memiliki kaitan dengan pemerintah asing. Namun, para ahli menekankan bahwa selama perangkat terhubung ke internet dengan kata sandi standar atau tanpa enkripsi yang kuat, ancaman pengintaian akan terus menghantui, baik di medan perang maupun ruang privasi rumah tangga. (The Wall Street Journal/I-2)
