
HASIL pemindaian sinar-X pada lutut seseorang mungkin menunjukkan kerusakan yang cukup parah, tetapi pasien tersebut bisa jadi tidak merasakan nyeri sama sekali. Gambaran medis tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya, meskipun dokter atau orang sekitar sering kali menyebut kondisi tersebut sebagai sendi yang “aus” atau mengalami pengapuran.
Penggunaan istilah “sendi aus” atau wear and tear kerap membuat pasien merasa putus asa. Sebab, bagian tubuh yang sudah aus tebersit di benak untuk diganti, bukan disembuhkan.
Padahal, penyakit osteoartritis tidak sesederhana itu. Kondisi dan rasa sakit yang dialami setiap orang berbeda-beda, dan risikonya tidak selalu memburuk seiring berjalannya waktu.
Riset terbaru yang dipimpin oleh Andrew Briggs dari Curtin University, Australia, mengajak para tenaga medis untuk mengubah pandangan lama dalam penanganan osteoartritis. Tim peneliti meninjau berbagai studi ilmiah serta melibatkan langsung para penderita osteoartritis untuk menyusun panduan perawatan yang lebih efektif.
Beban Nyeri dan Pembatasan Aktivitas
Osteoartritis umumnya menyerang area lutut, pinggul, dan tangan. Rasa nyeri serta kekakuan pada sendi-sendi ini membuat aktivitas harian, seperti menaiki tangga atau membereskan rumah, menjadi jauh lebih berat.
Salah satu kontributor riset, George Milne, membagikan pengalamannya hidup dengan penyakit ini. “Hidup dengan osteoartritis mengubah lebih dari sekadar kondisi sendi Anda. Penyakit ini dapat mengubah apa yang Anda lakukan, ke mana Anda pergi, hingga cara Anda memikirkan masa depan,” ujar Milne.
Bahaya Label “Sendi Aus”
Sebutan bahwa sendi telah “aus karena terpakai” memang terdengar masuk akal bagi masyarakat umum. Namun, narasi ini memicu pertanyaan keliru, jika sendi sudah aus akibat digunakan, mengapa pasien justru disarankan untuk tetap aktif bergerak?
Studi tersebut menemukan bahwa anggapan salah ini membuat pasien lebih memilih jalur operasi dan mengabaikan program latihan fisik atau pengelolaan berat badan. Pasien kerap melewatkan terapi non-bedah yang sebenarnya bermanfaat hanya karena penjelasan awal membuat terapi tersebut terkesan sia-sia.
Co-senior author riset ini dari University of Sydney, David Hunter, meminta para klinisi dan dokter untuk meninjau kembali istilah yang mereka gunakan kepada pasien.
“Deskripsi seperti ‘tulang saling bergesekan’ atau ‘aus karena terpakai’ sudah ketinggalan zaman dan sering kali membuat pasien enggan menjalani perawatan,” kata Hunter.
Ia menambahkan, “Alih-alih demikian, mengubah cara pandang bahwa gejala osteoartritis tidak selalu memburuk dan masih bisa dikelola dapat membantu pasien untuk lebih aktif terlibat dalam perawatan mereka.”
Olahraga Jadi Kunci Utama
Hingga saat ini, belum ada obat yang terbukti dapat menghentikan atau memperlambat perkembangan osteoartritis secara total. Meski demikian, pasien tetap bisa mendapatkan bantuan untuk meredakan nyeri dan memperbaiki mobilitas tubuh.
Para dokter disarankan untuk mengutamakan olahraga fisik dan pendampingan pengelolaan berat badan sebagai langkah awal. Pendekatan ini berfokus pada peningkatan kualitas hidup pasien, seperti kemampuan berjalan lebih jauh dengan rasa nyeri yang minim, meskipun kondisi sendi pada hasil pemindaian masih tampak bermasalah.
Sayangnya, praktik medis di lapangan kerap belum sejalan dengan panduan utama ini. Dalam studi terhadap 9.196 kunjungan dokter keluarga di Australia untuk kasus osteoartritis pinggul dan lutut, sebanyak 74 persen intervensi masih berfokus pada pemberian obat-obatan. Sementara itu, edukasi dan pengelolaan gaya hidup hanya diberikan pada 23 persen kunjungan. (Earth/Z-2)
