
SEJAK zaman kuno, manusia selalu menatap langit malam dan bertanya-tanya tentang asal-usul Bulan. Satelit alami tunggal milik Bumi ini tidak hanya memengaruhi pasang surut air laut dan stabilitas iklim, tetapi juga menyimpan misteri besar mengenai bagaimana dan kapan ia mulai mengorbit planet kita.
Hingga saat ini, teori utama yang dipegang oleh para astronom adalah hipotesis tumbukan besar (giant-impact hypothesis). Teori ini menyatakan sekitar 100 juta tahun pertama sejak tata surya terbentuk, Bumi purba bertabrakan dengan benda langit berukuran sebesar Mars yang dinamai Theia.
Dampak tabrakan dahsyat tersebut melontarkan material batuan dan debu ke orbit Bumi, yang kemudian menyatu dan membentuk Bulan dalam rentang waktu yang terbilang singkat.
Jejak Teori dan Bukti Ilmiah
Gagasan mengenai tabrakan raksasa ini pertama kali dicetuskan oleh ahli geologi Reginald Aldworth Daly pada tahun 1946. Konsep tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh peneliti William Hartmann dan Donald Davis pada dekade 1970-an. Teori ini resmi menjadi penjelasan utama pembentukan Bulan dalam konferensi penting di Kona, Hawaii, pada 1984.
Popularitas hipotesis tumbukan besar didukung oleh sejumlah bukti ilmiah yang kuat:
- Kemiripan Isotop: Komposisi rasio isotop stabil pada sampel batuan Bulan sangat mirip dengan batuan di Bumi, menunjukkan keterkaitan asal-usul yang erat antara keduanya.
- Momentum Sudut Tinggi: Sistem rotasi Bumi dan Bulan memiliki momentum sudut yang tidak biasa jika dibandingkan dengan planet batuan lainnya di tata surya.
- Inti Besi yang Kecil: Bulan memiliki kerapatan yang relatif rendah dan inti besi yang kecil. Hal ini terjadi karena inti logam milik protoplanet Theia menyatu dengan interior Bumi, sementara material kerak dan mantel yang lebih ringan terlontar ke ruang angkasa untuk membentuk Bulan.
- Kelangkaan Zat Volatil: Material Bulan menunjukkan penurunan kadar zat volatil secara signifikan, menandakan terjadinya peristiwa berenergi sangat tinggi yang menguapkan senyawa-senyawa tersebut.
Temuan Baru dan Teka-Teki yang Belum Terjawab
Meskipun teori ini diterima secara luas, para ilmuwan masih terus meneliti kondisi pasti saat tabrakan terjadi.
Riset terbaru yang dipimpin Adeene Denton dari Southwest Research Institute bersama tim dari Lunar and Planetary Laboratory University of Arizona memberikan sudut pandang baru. Melalui simulasi komputer, studi tersebut menunjukkan bahwa suhu dan kekuatan fisik dari kedua objek yang bertabrakan sangat memengaruhi proses pembentukan.
Simulasi tersebut memperlihatkan di bawah kondisi tertentu, Bulan bisa jadi terbentuk dalam waktu yang sangat singkat, bahkan hanya dalam kurun waktu sekitar lima jam setelah benturan.
Kendati demikian, penentuan skenario pasti masih terkendala oleh perdebatan mengenai usia pasti Bulan.
“Terdapat kontroversi besar mengenai usia Bulan,” ujar Dr. Erik Asphaug, profesor ilmu planet di University of Arizona sekaligus salah satu penulis pendamping studi tersebut.
Para ilmuwan terus mengumpulkan data baru dari sampel batuan dan simulasi canggih untuk memetakan kembali detik-detik awal kelahiran Bulan secara lebih presisi. (Space/Z-2)
