
SIAPA tidak kenal Frank Sinatra. Dia adalah salah satu ikon terbesar dalam sejarah musik dunia.
Tahun ini, The Papandayan Jazz Festival (TPJF) juga mengenangnya dengan menghadirkan sebuah pertunjukan istimewa bertajuk “A Night of Frank Sinatra”. Ini adalah sebuah penghormatan musikal.
Dipimpin oleh musisi dan komponis Dwiki Dharmawan, pertunjukan ini menghadirkan kolaborasi spesial bersama Dira Sugandi, Dirly Dave, serta Bandung Jazz Orchestra (BJO)
.
Diselenggarakan di Kota Baru Parahyangan Stage, Suagi Ballroom, pertunjukan ini membawa penonton menyusuri perjalanan karya-karya legendaris Frank Sinatra yang telah menginspirasi generasi musisi lintas zaman.
Melalui format big band orchestra, Dwiki Dharmawan menghadirkan interpretasi yang tetap menghormati karakter asli karya-karya Sinatra, sekaligus memberikan nuansa segar melalui sentuhan musikal para musisi Indonesia.
“Ini adalah bentuk penghormatan kepada Frank Sinatra yang pengaruhnya begitu besar terhadap perkembangan musik dunia. Di sisi lain, penampilan ini juga menjadi penegasan bahwa The Papandayan Jazz Festival tetap menghadirkan esensi jazz yang kuat dalam setiap programnya,” ujar Dwiki.
Didukung oleh 13 musisi muda berbakat yang tergabung dalam Bandung Jazz Orchestra, pertunjukan ini membawakan sejumlah lagu ikonik Frank Sinatra. Mulai dari Fly Me to The Moon, Summer Wind, Strangers in The Night, Come Fly With Me, I’ve Got You Under My Skin, All The Way, The Way You Look Tonight, Something Stupid, hingga My Way dan New York, New York.
MENJAGA ESENSI ORISINAL
Sebagai Music Director, Dwiki mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam produksi ini adalah memilih lagu dari katalog Frank Sinatra yang sangat kaya dan dicintai banyak generasi. Untuk menjaga karakter karya-karya tersebut, eksplorasi improvisasi yang biasanya menjadi ciri khas pertunjukannya sengaja dibatasi agar esensi orisinal lagu tetap terjaga.
Pemilihan Dira Sugandi dan Dirly Dave sebagai vokalis utama juga dilakukan secara khusus. Karya-karya Sinatra membutuhkan penyanyi dengan kualitas vokal, interpretasi, dan musikalitas yang kuat.
“Dengan Dira saya telah banyak bekerja sama dalam berbagai konser di dalam maupun luar negeri. Sementara dengan Dirly, saya melihat karakter vokalnya memiliki kualitas yang mampu menghadirkan nuansa berbeda dalam repertoar Frank Sinatra,” jelas Dwiki.
Bagi Dirly Dave, penampilan ini menjadi pengalaman perdananya tampil dalam festival jazz. Ada tantangan teknis saat membawakan lagu-lagu Frank Sinatra yang umumnya ditulis untuk karakter vokal bariton, sementara dirinya memiliki karakter tenor.
Meski demikian, pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga untuk mengeksplorasi musikalitas di luar zona nyamannya.
Sementara itu, Dira Sugandi mengaku memiliki kedekatan emosional dengan lagu-lagu Frank Sinatra sejak kecil. Musik Sinatra kerap diperdengarkan di rumah oleh sang ayah, menjadikan repertoar yang dibawakan dalam konser ini terasa personal sekaligus penuh nostalgia.
Selain menghadirkan pertunjukan berkualitas, kolaborasi ini juga mencerminkan semangat TPJF dalam mempertemukan berbagai generasi dan latar belakang musisi dalam satu panggung. Keterbukaan terhadap kolaborasi lintas genre menjadi bagian penting dari perkembangan ekosistem jazz Indonesia yang semakin dinamis.
Di luar panggung, Dwiki Dharmawan turut menyampaikan optimismenya terhadap masa depan jazz Indonesia. Melalui pengalamannya sebagai pendidik dan penggerak musik jazz nasional, ia melihat semakin banyak talenta muda yang menunjukkan kemampuan luar biasa dan berpotensi membawa jazz Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.
Sejalan dengan tema TPJF 2026, “Sounds to the Soul”, pertunjukan “A Night of Frank Sinatra” tidak hanya menghadirkan nostalgia melalui karya-karya klasik yang abadi, tetapi juga menjadi perayaan atas kekuatan musik yang mampu melampaui generasi, budaya, dan waktu.
