
PERJALANAN pulang di dalam mobil usai latihan atau pertandingan yang mengecewakan sering kali menjadi momen penuh tekanan bagi atlet muda. Terjebak di dalam kendaraan saat emosi masih mentah, banyak anak yang harus mendengarkan kritik atau evaluasi dari orangtua mereka.
Fenomena ini dikenal luas sebagai pengalaman yang membuat banyak anak kehilangan minat pada dunia olahraga. Menurut American Academy of Pediatrics, sebanyak 70% atlet muda memilih berhenti dari olahraga terorganisasi pada usia 13 tahun.
Ibu dari bintang hoki profesional Connor Bedard, Melanie Bedard, membagikan pengalamannya mengenai tren perjalanan pulang tersebut. Dalam wawancaranya bersama Toronto Star pada 2023 yang kembali mencuri perhatian, Melanie mengenang masa-masa awal karier putranya.
“Connor sering bercerita bahwa beberapa teman satu timnya menangis karena tidak ingin naik mobil bersama ayah atau orangtua mereka,” kata Melanie.
“Saya berpikir, semua orang di dalam sistem ini telah kehilangan fokus pada hal terpenting, yaitu hubungan Anda. Karena meskipun mereka menjadi Sidney Crosby berikutnya, karier mereka kemungkinan selesai di usia 30-an, dan Anda telah merusak hubungan yang seharusnya bisa Anda miliki seumur hidup,” lanjutnya.
Mantan Direktur Eksekutif True Sport Foundation, Karri Dawson, menegaskan bahwa alasan utama anak-anak meninggalkan olahraga adalah karena kegiatan itu tidak lagi menyenangkan. Pada 2016, True Sport merilis film kampanye yang memperlihatkan bagaimana kalimat-kalimat sindiran orangtua di dalam mobil dapat melukai perasaan anak secara mendalam.
“Banyak orang yang menghubungi saya dan berkata, ‘Ya Tuhan, saya tidak tahu bahwa apa yang saya katakan dan lakukan ternyata berdampak sangat negatif pada kesenangan anak saya,'” ujar Dawson.
Dampak dari percakapan di dalam mobil ini juga diteliti oleh Jeemin Kim, Asisten Profesor Kinesiologi di Michigan State University, bersama mendiang Katherine Tamminen. Penelitian yang terbit pada Januari 2022 tersebut mengamati 28 pasangan orangtua-anak.
Kim menemukan bahwa 59% durasi perjalanan sebenarnya diisi oleh keheningan. Menurutnya, berdiam diri saat emosi sedang tinggi bukanlah hal yang buruk untuk memberi waktu pendinginan. Selain itu, topik olahraga hanya dibahas sekitar 13% dari total waktu perjalanan.
Meski begitu, kesan negatif tetap bisa tertanam kuat pada anak. “Saya ingat seorang anak berkata, ‘Saya suka bermain olahraga ini, tetapi Anda tidak bermain hanya untuk melakukan percakapan seperti ini.’ Jika itu memori yang mereka asosiasikan dengan olahraga di masa muda, mereka tidak akan mengingatnya sebagai hal yang baik,” kata Kim.
Pendiri Changing the Game Project sekaligus mantan pemain sepak bola profesional, John O’Sullivan, menyarankan agar orangtua menahan diri untuk tidak langsung menganalisis pertandingan. Ia menyarankan orangtua hanya mengucapkan lima kata sederhana saat kembali ke mobil: “I love watching you play” (Saya suka melihatmu bertanding).
Penulis buku peak performance sekaligus pelatih tim pemuda, Brad Stulberg, juga menekankan pentingnya menghindari evaluasi di jalan pulang.
“Hal terburuk yang bisa Anda lakukan adalah menganalisis pertandingan,” kata Stulberg. “Bahkan jika mereka bermain bagus, Anda mengirimkan pesan kepada anak, seperti, ‘Kalau saya tidak bermain bagus, apakah Anda tidak akan senang bersama saya?’ Saya pikir anak-anak hanya ingin menjadi anak-anak. Jika mereka ingin membicarakan apa yang terjadi, mereka akan memberitahu Anda. Namun secara umum, pengalaman saya menunjukkan mereka tidak melakukannya.” (CNN/Z-2)
