
Persaingan maskapai di Asia tidak lagi hanya berkaitan dengan pembukaan rute dan pertumbuhan jumlah penumpang. Penguatan merek serta pengembangan pengalaman penumpang menjadi bagian dari strategi maskapai untuk memperluas pasar dan membangun posisi di tingkat internasional.
Perkembangan tersebut terlihat dari Vietjet yang meraih gelar Asia’s Leading Airline Brand 2026 dalam ajang World Travel Awards di Maladewa. Penghargaan tersebut menjadi capaian terbaru maskapai asal Vietnam itu di tengah perluasan jaringan penerbangan dan pengembangan produk serta layanan.
Bagi pasar Indonesia, jaringan Vietjet mencakup penerbangan langsung dari Jakarta dan Bali menuju Hanoi dan Ho Chi Minh City. Rute tersebut menghubungkan Indonesia dengan Vietnam sekaligus menjadi bagian dari jaringan internasional maskapai.
World Travel Awards merupakan ajang penghargaan di sektor perjalanan dan pariwisata yang memberikan apresiasi kepada organisasi dengan produk dan layanan di berbagai pasar. Pemenang ditentukan berdasarkan suara dari profesional industri, wisatawan, dan konsumen di seluruh dunia.
Penghargaan 2026 melanjutkan capaian Vietjet dalam ajang tersebut. Sebelumnya, maskapai itu meraih gelar Asia’s Leading Airline-Customer Experience selama tiga tahun berturut-turut pada 2023, 2024, dan 2025. Pada 2024, Vietjet juga memperoleh penghargaan Asia’s Leading Airline-Airline Loyalty Programme.
Ekspansi Rute Berjalan Bersama Penguatan Merek
Pengembangan merek Vietjet berjalan seiring dengan perluasan jaringan penerbangan. Maskapai tersebut menyebut pengembangan harga, pilihan produk dan layanan, serta identitas merek sebagai bagian dari upaya meningkatkan pengalaman penumpang. Vietjet juga mengembangkan model bisnisnya menuju maskapai hybrid dengan pilihan produk dan layanan yang lebih beragam seiring bertambahnya jaringan dan skala operasional.
“Perusahaan memasuki fase pertumbuhan baru dengan memperkuat posisinya sebagai maskapai hybrid yang menawarkan lebih banyak pilihan produk, layanan, dan pengalaman kepada penumpang,” ujar CEO Vietjet Nguyen Thanh Son.
Menurut dia, strategi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghubungkan lebih banyak destinasi, tetapi juga memberikan nilai dan pengalaman yang lebih beragam kepada penumpang di berbagai negara.
Penguatan merek tersebut tercermin dalam data Brand Finance. Nilai merek Vietjet disebut meningkat 117% menjadi US$906 juta pada 2026. Dengan nilai tersebut, Vietjet untuk pertama kalinya masuk dalam daftar 50 merek maskapai paling bernilai di dunia. Pertumbuhan nilai merek tersebut dikaitkan dengan strategi ekspansi internasional Vietjet yang meluas dari kawasan Asia-Pasifik menuju pasar yang lebih jauh, termasuk Eropa.
Pada enam bulan pertama 2026, Vietjet mengangkut lebih dari 13,4 juta penumpang dalam 72.000 penerbangan. Jaringannya mencakup 213 rute, terdiri atas 46 rute domestik dan 167 rute internasional. Ekspansi jaringan juga berlanjut melalui pembukaan sejumlah rute ke Jepang, Filipina, Sri Lanka, China, Kazakhstan, dan Republik Ceko.
Dua rute baru, yakni Hanoi-Almaty dan Hanoi-Prague, dijadwalkan mulai beroperasi pada Oktober 2026. Keduanya menjadi bagian dari perluasan jaringan Vietjet menuju pasar Eropa. Untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, Vietjet juga telah memesan lebih dari 600 pesawat Airbus dan Boeing.
Perluasan jaringan, penambahan armada, serta pengembangan produk dan pengalaman penumpang menunjukkan bahwa persaingan maskapai Asia semakin mencakup aspek di luar konektivitas penerbangan. Bagi maskapai yang berekspansi ke pasar internasional, kekuatan merek dan pengalaman penumpang menjadi bagian lain dari upaya membangun posisi di pasar yang semakin luas. (E-3)
