Studi Ungkap Potensi Kehidupan Mikroba Bumi di Bulan Saturnus
Ilustrasi(Doc NASA)

SALAH satu bulan Saturnus, Enceladus, kembali menarik perhatian dalam pencarian kehidupan di luar Bumi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi kimia di lautan bawah permukaan bulan es tersebut ternyata memungkinkan mikroorganisme tertentu untuk bertahan hidup dan menghasilkan energi.

Studi ini dilakukan oleh tim peneliti Ludwig-Maximilian University in Munich (LMU) bersama ilmuwan institusi lainnya. Data dari studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances pada 25 September 2026, menunjukkan bahwa adanya semburan gas metana yang mengandung berbagai senyawa  termasuk hidrogen molekuler, metana, garam, dan material organik. 

Semburan gas metana tersebut mengindikasikan adanya interaksi antara air dan batuan serta kemungkinan aktivitas hidrotermal di dasar laut bawah permukaan Enceladus. Yang membuat peneliti yakin akan potensi kehidupan adalah para peneliti yang menemukan bahwa organisme yang hidup di perairan laut sekitar Jepang mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrem, kondisi yang diperkirakan sama dengan kondisi lautan asin di balik lapisan es Enceladus.

Dari sudut pandang manusia, Enceladus jelas bukan tempat yang ramah. Kondisi yang sangat dingin, hampir tidak memiliki oksigen bebas, dan lautan bawah permukaannya diperkirakan sangat basa. Namun, bagi mikroorganisme tertentu, kondisi ekstrem tersebut belum tentu menjadi penghalang mutlak.

“Jika kita menggunakan definisi kehidupan berbasis sel sebagaimana yang kita pahami di Bumi saat ini, eksperimen tersebut menunjukkan bahwa jika organisme yang di perairan laut dalam Jepang berada di Enceladus, ada kemungkinan besar ia bisa bertahan hidup,” ujar William Orsi, seorang profesor mikrobiologi di Universitas Ludwig-Maximilian, Munich.

Para peneliti mencoba merekonstruksi lingkungan yang diperkirakan terdapat di dasar lautan Enceladus di laboratorium menggunakan ruang khusus tanpa oksigen untuk menciptakan kondisi yang menyerupai lingkungan bawah laut bulan tersebut. 

Kadar oksigen dalam eksperimen dibuat sekitar 10.000 kali lebih rendah dibandingkan atmosfer Bumi. Larutan dengan kandungan garam karbonat tinggi kemudian digunakan untuk mensimulasikan lautan Enceladus yang bersifat sangat basa dan kaya karbonat.

Setelah menciptakan kondisi yang serupa, para ilmuwan memasukkan organisme dari perairan laut dalam antara perairan Jepang dan Taiwan untuk menguji kemampuan hidupnya di kondisi tersebut. Dalam kondisi kimia Enceladus, organisme yang dimasukkan menunjukkan pertumbuhan dan bahkan menghasilkan metana. 

Hal ini menunjukkan bahwa kondisi Enceladus tidak hanya bersifat ekstrem, tetapi juga berpotensi menyediakan sumber energi yang dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme tertentu. Bahkan dengan tantangan yang ada seperti terbatasnya ketersediaan karbon dioksida, organisme tersebut ternyata mampu beradaptasi.

Para peneliti menemukan bahwa sel meningkatkan penggunaan jalur metabolisme yang disebut jalur reduktif asetil-KoA untuk menangkap dan memanfaatkan CO₂ dalam jumlah yang sangat kecil. Dengan mekanisme tersebut, mikroorganisme tetap mampu menjalankan metabolisme meskipun pasokan karbon dioksida sangat terbatas. 

Namun dengan penemuan ini, para peneliti menegaskan bahwa eksperimen tersebut tidak membuktikan keberadaan kehidupan di Enceladus. Yang berhasil ditunjukkan adalah bahwa salah satu jenis metabolisme paling tua yang masih ditemukan pada kehidupan di Bumi dapat berlangsung dalam kondisi yang menyerupai lingkungan bawah permukaan bulan Saturnus.

Implikasi Penemuan

Studi dan hasil yang ditemukan membantu memperluas pemahaman ilmuwan mengenai lingkungan seperti apa yang berpotensi mampu mendukung kehidupan.

“Kimia Enceladus itu sendiri dapat membantu mengatasi hambatan besar bagi kehidupan,” kata William Orsi, profesor geomikrobiologi LMU dan salah satu peneliti utama studi tersebut. Menurutnya, interaksi antara batuan dan air tidak hanya menghasilkan hidrogen sebagai sumber energi, tetapi juga membantu mikroorganisme mengakses karbon meskipun CO₂ sangat terbatas. 

Temuan terbaru ini juga memperkuat alasan ilmiah untuk melakukan misi yang secara khusus mengambil dan menganalisis material dari plume Enceladus.

Sumber: LMU München, Science Advances



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *