Antisipasi Dampak El Nino, Petani di Jabar Diminta Tanam Palawija dan Tunda Musim Tanam
Saluran irigasi di Kota Tasikmalaya selama musim kemarau panjang menyusut drastis membuat petani tidak bisa menanam padi.(Dok. MI/Adi Kristiadi)

MUSIM kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino terus berdampak luas pada sektor pertanian di sejumlah daerah. Kekeringan ekstrem menyebabkan lahan pertanian mengalami gagal panen dan kesulitan pengolahan, sehingga petani diimbau untuk beralih menanam palawija guna menekan angka kerugian.

Ketua Gerakan Petani Mandiri Indonesia (GPMI) Jawa Barat, Yuyun Suyud, mengungkapkan bahwa kekeringan yang telah berlangsung selama enam bulan terakhir telah melumpuhkan aktivitas pengolahan lahan padi. Akibatnya, jadwal musim tanam diprediksi akan mundur secara signifikan.

“Fenomena El Nino tidak hanya berdampak pada krisis air bersih bagi warga, tetapi musim tanam dipastikan mundur. Para petani diperkirakan baru bisa kembali melakukan pengolahan lahan persawahan pada bulan November atau Desember 2026,” ujar Yuyun Suyud, Selasa (29/9/2026).

Yuyun menambahkan, kondisi di lapangan saat ini sangat memprihatinkan. Kurangnya pasokan air menyebabkan tanaman padi yang baru berusia 1 hingga 3 bulan gagal tumbuh. Selain itu, keringnya aliran sungai dan saluran irigasi membuat petani sulit mengolah tanah.

Sebagai langkah antisipasi, GPMI mendorong petani untuk memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam komoditas palawija seperti singkong, kacang tanah, ubi, jagung, dan kedelai. Strategi ini mulai diterapkan oleh petani di wilayah Kota Tasikmalaya, Ciamis, Garut, hingga Pangandaran sebagai pengganti kebutuhan pangan keluarga.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Sumber Daya Air (PSDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya, Rino Isa Muharam, membenarkan adanya penyusutan debit air yang drastis. Ia mencatat setidaknya 51 daerah irigasi yang mengairi lahan seluas 4.239 hektare kini dalam kondisi menyusut.

“Kami berharap petani mengganti tanamannya dengan singkong, ubi, atau kacang tanah untuk meminimalisasi kerugian. Jika tetap memaksakan menanam padi dalam kondisi air yang terbatas, kemungkinan besar mereka akan mengalami kerugian total,” pungkas Rino. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *