NAHDLATUL Ulama (NU) telah merampungkan perhelatan muktamar di Jombang pada Agustus lalu. KH Miftahul Akhyar melanjutkan kepemimpinan sebagai rais am dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) mendapatkan amanat sebagai ketua umum. Di tengah dinamika sosial politik yang dihadapi bangsa Indonesia dan kondisi geopolitik global, penting untuk melihat masa depan Nahdlatul Ulama dalam konteks ekonomi kerakyatan. Bagaimana menavigasi isu-isu strategis Nahdlatul Ulama di tengah kontestasi geopolitik dan sosial-politik domestik?

Abad kedua Nahdlatul Ulama sudah mulai terbuka gerbangnya. Jutaan kader Nahdlatul Ulama dengan berbagai profesi, keahlian, dan latar belakang menjadi kekuatan besar yang bisa dikonsolidasi untuk mendorong khidmah yang lebih luas. Apalagi dengan kekuatan jemaah yang jumlahnya sekitar 56%-67% dari populasi warga muslim, atau lebih dari 140-160 juta warga Indonesia (survei Alvara 2025), tentu mereka membutuhkan kepemimpinan yang solid dan organisasi yang progresif.

Pada saat ini, tantangan besar warga Nahdlatul Ulama terutama di bidang kedaulatan ekonomi, penguatan sumber daya manusia, dan mendorong infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan sosial untuk bisa memperbaiki kesejahteraan umat. Tentu saja, NU punya banyak keunggulan dalam konteks community, resiliensi, kohesi sosial, dan nilai-nilai spiritual yang terwariskan yang memperkukuh ikatan kultural, yang menjadi tautan antara jemaah dan jam’iyyah, antara warga dan organisasinya.

 

Di tengah dinamika global dan tantangan ekonomi Indonesia sekarang ini, potensi-potensi Nahdlatul Ulama bisa menjadi kekuatan yang dikonsolidasi, terutama di sektor sosial ekonomi kerakyatan. Saat ini, gini ratio

 Indonesia tercatat sebesar 0,375 yang menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (0,381 pada September 2024 dan 0,379 pada Maret 2024, data BPS). Tren itu menunjukkan perbaikan ekonomi secara bertahap meski masih sangat rentan terhadap guncangan. Sementara itu, Indonesia juga mencatat pencapaian SDGs sebesar 62,5 % yang lebih tinggi daripada rata-rata global sebesar 18% (data Bappenas 2025). Pada titik itu, Indonesia mempunyai kekuatan sebagai bangsa yang welas asih. Potensi dana filantropi Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp650 triliun per tahun, yang mengacu pada proyeksi Kementerian PPN/Bappenas. Potensi filantropi di internal jemaah Nahdlatul Ulama juga sangat besar, yang masih bisa dikembangkan menjadi kekuatan raksasa untuk mendorong kesejahteraan warga secara berkesinambungan.

 

GLOBAL NU CARE 

Sebagai pengalaman, beberapa tahun terakhir, penulis beruntung terlibat dalam kampanye pembangunan masjid Indonesia di London dan Belgia. Ada banyak pihak yang terlibat, juga banyak organisasi yang saling membantu, tapi pengalaman terlibat untuk mendiskusikan konsep, mengonsolidasi, mendorong kampanye donasi dari dana umat, baik warga muslim global maupun warga Indonesia yang berdiaspora maupun yang bermukim di Tanah Air. Terutama bagaimana memahami dinamika filantropi global, ekosistem digital dan isu-isu yang perlu kita sampaikan ke publik agar menjadi edukasi untuk menggalang filantropi.

Ide-ide itu saya diskusikan beberapa kali dengan pengurus PBNU dan para pengurus di NU Care, bahwa sudah saatnya filantropi NU bergerak ke ekosistem global. Penulis juga cukup sering berdiskusi dengan beberapa aktivis filantropi internasional di London dan dalam kunjungan ke beberapa negara Eropa, Australia, dan Amerika Serikat, bahwa framework yang digunakan tidak sekadar mengais dana umat, tapi menggerakkan ekonomi produktif sebagai ekosistem kesejahteraan. Pada konteks itu, penulis teringat oleh perjuangan KH Sahal Mahfudh yang mendorong dan memberikan teladan tentang zakat produktif.

Global NU Care yang sudah diluncurkan beberapa waktu lalu perlu diteruskan dan diperkuat kepemimpinan PBNU berikutnya. Global NU Care, sebagai ekspansi ekosistem dari lembaga filantropi NU yang sudah berjalan, yakni NU Care-Lazisnu, perlu dibaca dalam konteks ini: bukan sekadar memperluas jangkauan penggalangan dana, melainkan juga membangun arsitektur filantropi yang mengintegrasikan tiga kekuatan sekaligus: diaspora, ekosistem digital, dan keuangan umat, untuk mendorong agenda pemberdayaan, ekonomi hijau, dan penguatan tata kelola berbasis ESG (environmental, social, governance).

Kekuatan pertama ialah diaspora. Jejaring PCINU selama ini lebih banyak berfungsi sebagai simpul silaturahim dan representasi keagamaan di luar negeri. Padahal, di dalamnya tersimpan kapasitas profesional yang signifikan, mulai periset di bidang teknologi, praktisi keuangan syariah, hingga akademisi kebijakan publik. Model diaspora bonds maupun diaspora giving yang telah terbukti efektif di negara-negara seperti India dan Filipina bisa menjadi rujukan: dana dan keahlian dari diaspora tidak sekadar dikirim sebagai remitansi konsumtif, tetapi dikanalisasi ke dalam instrumen investasi sosial yang mendukung usaha mikro dan kecil di kampung halaman.

Kekuatan kedua ialah ekosistem digital. Filantropi NU sudah bergerak ke arah yang tepat, mendorong basis ekosistem digital melalui ekosistem NU Care dan NU Online. Digitalisasi zakat, infak, dan wakaf telah terbukti meningkatkan volume penghimpunan secara signifikan di berbagai lembaga filantropi Islam global. Global NU Care ke depan perlu memperkuat platform digital terintegrasi yang tidak hanya memfasilitasi donasi, tetapi juga menyediakan transparansi penyaluran secara real-time, sesuatu yang menjadi prasyarat kepercayaan generasi muda muslim yang semakin melek digital dan semakin kritis terhadap akuntabilitas lembaga filantropi.

Kekuatan ketiga ialah keuangan umat dalam pengertian yang lebih luas, bukan hanya zakat dan wakaf, melainkan juga potensi dana yang dikelola, unit usaha milik NU, serta instrumen keuangan sosial seperti wakaf produktif dan instrumen lain yang bisa dikembangkan. Konsolidasi ketiganya membuka ruang bagi NU untuk membangun dana abadi (endowment fund) yang dikelola secara profesional, dengan hasil investasinya dialokasikan untuk program pemberdayaan ekonomi jangka panjang, bukan sekadar bantuan karitatif yang habis begitu disalurkan.

Kita melihat bagaimana beberapa pengurus cabang NU menggerakkan koin NU serta program zakat-wakaf yang cukup inspiratif. Program air bersih, bisnis travel

 dan transportasi, wirausaha pangan lokal, pesantren hijau dan kisah-kisah saling menginspirasi dari cabang-cabang NU Care. Juga, NU Care Jawa Timur yang berhasil mengelola dana hingga Rp1,5 triliun sepanjang 2025. Jika dikonsolidasi dengan ekosistem yang kuat, potensi uang yang dikelola bisa mencapai ratusan triliun dari warga pada tiap tahunnya yang dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

 

EKONOMI HIJAU DAN ESG

Kerja strategis yang membuat momentum itu semakin relevan ialah persinggungannya dengan agenda ekonomi hijau dan ESG. Transisi energi dan pembiayaan berkelanjutan kini menjadi arus utama kebijakan ekonomi global, termasuk di Indonesia melalui berbagai komitmen net-zero emission. Nahdlatul Ulama dengan basis massa yang tersebar hingga ke wilayah perdesaan dan pesisir memiliki posisi penting untuk menjadi mitra strategis pemerintah dan lembaga multilateral dalam implementasi program keberlanjutan di tingkat akar rumput: mulai energi terbarukan skala komunitas, pertanian regeneratif berbasis pesantren, hingga literasi ESG bagi pelaku UMKM binaan NU. Filantropi hijau semacam itu sekaligus menjawab tuntutan generasi muda nahdliyin yang semakin peduli isu iklim, sekaligus membuka akses pendanaan internasional yang kian mensyaratkan kredensial keberlanjutan.

Namun, ambisi itu tidak akan berjalan tanpa tata kelola yang kredibel. Kisah-kisah dan track record lembaga filantropi global menunjukkan kepercayaan publik dibangun melalui transparansi laporan keuangan, audit independen, dan pelaporan dampak yang terstandardisasi, bukan sekadar narasi keagamaan. Tentu saja, Global NU Care perlu mengadopsi standar pelaporan yang setara dengan lembaga filantropi internasional, sekaligus membuka ruang kemitraan dengan lembaga donor global, dana pensiun berbasis syariah, dan multiinvestor yang mencari mitra implementasi tepercaya di tingkat lokal.

Global NU Care bisa menjadi platform untuk mengubah jaringan NU internasional menjadi network of solidarity and opportunity. PCINU di berbagai negara dapat berfungsi sebagai simpul pengetahuan, jaringan filantropi, dan diplomasi sosial. Pada sisi lain, produk pesantren dan UMKM tidak berhenti di pasar lokal. Santri yang memiliki kompetensi digital dapat terhubung dengan mentor global. Peneliti muda dapat mengakses jaringan akademik internasional serta program-program inovasi di lingkungan pesantren dan ekosistem Nahdlatul Ulama dapat menemukan momentum dan peningkatan akses. Dengan kata lain, global network harus menghasilkan global opportunity.

Walhasil, Global NU Care menjadi narasi nyata tentang mereposisi NU dari organisasi yang selama ini dikenal sebagai penyedia layanan sosial dan keagamaan menjadi simpul produksi inovasi ekonomi kerakyatan yang terhubung dengan jaringan global. Jika dikelola dengan disiplin kelembagaan yang tepat, konsolidasi diaspora, digitalisasi, dan keuangan umat itu berpotensi menjadikan NU bukan hanya organisasi masyarakat sipil terbesar di dunia dari sisi jumlah anggota, melainkan juga salah satu kekuatan filantropi paling berpengaruh dalam mendorong ekonomi kerakyatan yang menyejahterakan dan pemberdayaan berkelanjutan, yang menjadi khidmah bersama pada momentum abad kedua.

 

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *