
PENGOLAHAN air laut menjadi air baku melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) menghadapi tantangan besar, terutama tingginya kebutuhan energi dan biaya perawatan. Kondisi itu disebabkan tingginya kadar garam dan Total Dissolved Solids (TDS) pada air laut.
Direktur Teknik PAM JAYA Akhmad Santika mengatakan air laut tidak bisa diolah menggunakan sistem pengolahan air konvensional yang mengandalkan bahan kimia. SWRO membutuhkan proses penyaringan dengan membran bertekanan tinggi untuk memisahkan kandungan garam dan zat terlarut.
“Air bakunya itu air laut, di mana air laut itu kandungan TDS-nya sangat tinggi, juga kandungan garam. Ini tidak bisa kita lakukan secara sistem pengolahan yang biasa,” ujar Santika dikutip Sabtu (19/9).
Menurutnya, proses tersebut membutuhkan filter dengan tingkat kerapatan tinggi sehingga memerlukan tekanan besar. Konsekuensinya, kebutuhan energi dan biaya operasional ikut meningkat.
“Kita melakukan penyaringan karena pengolahan secara fisik. Kita bayangkan mengolah air dengan filter yang cukup rapat sehingga memerlukan effort yang sangat besar. Selain effort yang sangat besar, juga harus menggunakan energi yang tinggi karena butuh pressure,” jelasnya.
Tingginya kebutuhan energi tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi air.
Selain biaya operasional, biaya perawatan sistem juga menjadi tantangan karena teknologi SWRO membutuhkan peralatan dan membran yang harus dipelihara secara berkala.
“Akibatnya adalah biaya operasional yang cukup tinggi, dan juga biaya perawatan yang sangat tinggi,” kata dia.
Karena itu, menurut dia, pembangunan Giant Sea Wall menjadi salah satu opsi yang dapat mendukung penyediaan sumber air baku Jakarta.
Infrastruktur tersebut dapat dilengkapi dengan sistem penampungan air dari sungai-sungai yang melintasi Jakarta.
“Di DKI Jakarta itu kan ada 13 sungai yang melintasi DKI Jakarta dan itu butuh kita lakukan penampungan,” ujarnya.
Dengan adanya penampungan, sumber air yang digunakan tidak sepenuhnya berasal dari air laut. Namun, persoalan lain yang harus dihadapi ialah tingginya kandungan polutan pada air sungai.
Santika mengatakan keberadaan waduk atau bak penampungan dapat membantu proses pengendapan secara alami. Dengan waktu tinggal air yang cukup, sebagian material pencemar dapat mengendap sebelum air masuk ke tahap pengolahan berikutnya.
“Hanya menjadi problem lagi adalah polutan. Polutannya sangat tinggi. Tetapi dengan adanya bak penampungan, otomatis secara alami akan terjadi pemisahan polutan-polutan tersebut dengan secara alami, yaitu pengendapan,” tandasnya.
Menurut Akhmad, tantangan tersebut perlu diperhitungkan sejak awal dalam pengembangan teknologi pengolahan air di Jakarta. Kebutuhan energi, perawatan, dan biaya produksi menjadi faktor penting sebelum SWRO diterapkan dalam skala besar. (Z-2)
