
GUBERNUR DKI Jakarta Pramono Anung menyebut pembangunan Giant Sea Wall bakal menjadi salah satu syarat untuk untuk memperkuat ketersediaan air baku Jakarta.
Infrastruktur tersebut dinilai membuka peluang pengolahan air laut atau air payau menjadi air yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Langkah itu dinilai penting untuk mengantisipasi persoalan ketersediaan air, termasuk ketika Jakarta menghadapi musim kemarau dan ancaman kekeringan.
“Untuk mengubah air laut menjadi air tawar dan bisa digunakan, salah satu hal adalah Giant Sea Wall-nya segera dimulai,” ujar Pramono dikutip Sabtu (19/9).
Menurutnya, keberadaan Giant Sea Wall dapat mendukung penyediaan suplai air baku yang selama ini menjadi salah satu tantangan Jakarta.
Air laut maupun air payau yang tersedia nantinya dapat diolah melalui teknologi pengolahan air sebelum dimanfaatkan masyarakat.
“Kalau itu bisa dilakukan, maka suplai untuk air payau atau air tawar untuk kebutuhan diolah menjadi air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan gampang Pemerintah DKI Jakarta melalui PAM JAYA, kami siap untuk melakukan itu,” tandasnya.
Sebelumnya, Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin meminta Pemprov DKI mengantisipasi ancaman kekeringan dan potensi kekurangan air bersih akibat kemarau panjang.
Suhud mengatakan persoalan tersebut perlu disikapi serius, terlebih Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI sebelumnya telah menetapkan level kewaspadaan terkait kondisi kekeringan.
“Memang harus diantisipasi. Kemarin kan ada level awas dari BPBD. Saya kira ini harus disikapi serius,” kata Suhud di Jakarta Selatan, Kamis (17/9).
Menurut dia, salah satu opsi yang dapat dikembangkan adalah teknologi desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air tawar.
Suhud mencontohkan Kepulauan Seribu yang telah memiliki fasilitas desalinasi. Menurutnya, teknologi tersebut perlu mulai diperluas sebagai bagian dari strategi menghadapi ancaman krisis air bersih.
“Di Kepulauan Seribu sudah ada desalinasi, mengubah air laut jadi air bersih, air tawar. Saya kira itu juga harus sudah mulai dicoba dilakukan,” ujarnya.
Ia menilai langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini untuk menghadapi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air bersih di Jakarta akibat periode kering yang berkepanjangan. (Z-2)
