
MENTERI Lingkungan Hidup (LH), Muhammad Jumhur Hidayat, menyerukan gerakan “Taubat Ekologi Nasional” sebagai langkah kolektif untuk memulihkan kondisi alam Indonesia yang kian kritis. Ajakan tersebut disampaikan Jumhur saat memberikan kuliah umum di Aula Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Jumat (3/7) sore.
Dalam paparannya, Jumhur menegaskan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini merupakan dampak dari kesalahan kolektif bangsa. Oleh karena itu, upaya pemulihannya tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Karena semua bersalah, maka semua harus bertobat supaya tidak mengulangi kesalahan dan bekerja lebih keras lagi untuk memastikan kemuliaan lingkungan. Itulah yang saya sebut Gerakan Taubat Ekologi Nasional,” ujar Jumhur di hadapan civitas akademika UHN.
Langkah Strategis dan Target Gerakan
Pemerintah, saat ini, tengah mematangkan persiapan pelaksanaan gerakan tersebut yang direncanakan bakal diluncurkan secara resmi pada Agustus 2026. Gerakan ini mencakup berbagai aksi nyata di lapangan, mulai dari penghijauan skala besar hingga pengawasan ketat terhadap sektor industri.
Berikut adalah poin-poin utama dalam rencana aksi Gerakan Taubat Ekologi Nasional:
| Program Aksi | Target & Fokus Utama |
|---|---|
| Penghijauan Nasional | Penanaman dua miliar pohon di seluruh wilayah Indonesia. |
| Rehabilitasi Lahan | Pemulihan hutan mangrove dan lahan kritis. |
| Konservasi Air & Sampah | Pemulihan ekosistem sungai dan penanganan sampah terpadu. |
| Pengawasan Industri | Kepatuhan aturan limbah dan kewajiban reklamasi sektor ekstraktif. |
| Ekonomi Hijau | Pemanfaatan perdagangan karbon untuk kesejahteraan masyarakat. |
Jumhur juga memberikan peringatan keras kepada pelaku usaha di sektor ekstraktif. Ia meminta mereka bertanggung jawab penuh dalam memulihkan lingkungan melalui reklamasi dan penanaman kembali di area bekas tambang atau lahan yang terdampak operasional mereka.
Etika Lingkungan dan Peran Kampus
Selain aksi fisik, Menteri LH menekankan pentingnya membangun etika lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim global. Menurutnya, kesadaran moral terhadap alam harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan ekonomi dan pembangunan.
Senada dengan hal tersebut, Rektor UHN Sudirman Said menyambut baik gagasan Taubat Ekologi Nasional. Mantan Menteri ESDM ini menyatakan bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial sebagai ruang dialog untuk melahirkan solusi atas persoalan bangsa, termasuk krisis lingkungan.
“Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai dengan menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan, ekonomi, dan ekologi,” tegas Sudirman Said menutup sesi kuliah umum tersebut. (Z-1)
