83 Peneliti Muda Terpilih Kembangkan Inovasi Pangan Lokal
Dari kiri ke kanan: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Abdul Qohar (Institut Teknologi Sepuluh November), Adinda Nur Wulandari (Universitas Lampung), Elen Bethania Pasaribu (Universitas Jember), Kemal Abdul Malik (Ins(Dok. PT Indofood Sukses Makmur)

PENGEMBANGAN potensi pangan lokal membutuhkan dukungan riset dan inovasi agar kekayaan sumber daya Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal. Selain memperluas pilihan pangan yang aman dan bergizi, penelitian juga berperan dalam menciptakan nilai tambah, memperkuat industri pangan, serta mendukung kemandirian pangan nasional.

Kebutuhan tersebut mendorong pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha untuk mempercepat pengembangan hasil penelitian menjadi inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat.

Salah satu upaya penguatan ekosistem riset pangan dilakukan melalui Program Indofood Riset Nugraha (IRN) 2026–2027. Pada periode ini, sebanyak 83 mahasiswa strata satu (S1) terpilih untuk mendapatkan dukungan penelitian dari total 595 proposal yang diterima.

Program yang diselenggarakan PT Indofood Sukses Makmur Tbk tersebut memasuki usia 20 tahun pada 2026. Selama dua dekade, IRN menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan penelitian sekaligus memperoleh pendampingan dari para pakar lintas disiplin ilmu.

Penguatan riset pangan juga menjadi perhatian dalam Simposium Pangan Nasional 2026 yang mengangkat tema Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa.

Forum yang diselenggarakan setiap dua tahun tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, dan pelaku industri untuk membahas peluang pengembangan pangan fungsional berbasis sumber daya lokal, termasuk tantangan dalam membawa hasil penelitian menuju penerapan dan hilirisasi.

Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., mengatakan pengembangan pangan fungsional memerlukan keterhubungan antara hasil penelitian, kebutuhan masyarakat, kesiapan industri, dan ketentuan regulasi.

“Pengembangan pangan fungsional memerlukan keterhubungan antara riset, kebutuhan masyarakat, kesiapan industri, dan ketentuan regulasi. Melalui simposium ini, kami berharap para peneliti memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai proses pengembangan inovasi, termasuk pentingnya bukti ilmiah, keamanan, mutu, dan ketepatan klaim, agar potensi pangan lokal dapat dikembangkan secara bertanggung jawab,” jelas Purwiyatno.

Indonesia memiliki sumber daya pangan yang beragam, mulai dari hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan hingga rempah-rempah serta pangan fermentasi tradisional seperti tempe.

Keragaman tersebut juga didukung pengetahuan dan kearifan masyarakat dalam mengolah serta memanfaatkan bahan pangan. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan penelitian untuk memastikan manfaat, keamanan, dan mutunya sebelum dikembangkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Menurut Purwiyatno, riset menjadi jembatan untuk menghubungkan kekayaan pangan lokal dengan kebutuhan masyarakat dan peluang pengembangan industri.

“Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal dan pengetahuan tradisional yang dapat menjadi sumber gagasan inovasi. Riset berperan penting untuk memahami potensi tersebut, menguji manfaatnya secara ilmiah, serta memastikan keamanan dan mutu dalam pengembangannya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penguatan kapasitas peneliti muda menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi pangan yang berkelanjutan.

“Melalui IRN, kami ingin membangun generasi peneliti muda yang kritis, kreatif, dan mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, sehingga hasil riset memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi solusi pangan yang bermanfaat,” katanya.

Pembahasan mengenai pengembangan pangan fungsional tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah, akademisi, dan industri. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S., menyampaikan pandangan mengenai kebijakan dan arah pembangunan nasional di bidang pangan, gizi, dan kesehatan untuk mendukung kemandirian bangsa.

Diskusi yang dipandu anggota Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Fenny Martha Dwivany, S.Si., M.Si., juga menghadirkan Dyan Garneta Paramita Sari, STP., M.Sc., dari Kementerian Perindustrian untuk membahas pengembangan industri pangan fungsional yang berdaya saing dan berbasis bahan baku lokal.

Perspektif kesehatan turut diangkat melalui pembahasan peran pangan fungsional dalam mendukung perbaikan gizi dan pencegahan penyakit tidak menular oleh perwakilan Kementerian Kesehatan. Sementara itu, perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membahas aspek keamanan, mutu, pelabelan, serta ketentuan klaim dalam pengembangan produk pangan fungsional.

Forum tersebut juga melibatkan sejumlah akademisi dan praktisi, antara lain dr. Widjaja Lukito, Sp.GK(K), Ph.D., Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, M.S., Adhi S. Lukman, Winarti TK, serta Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc.

Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai penting karena inovasi pangan tidak hanya berkaitan dengan pengembangan produk, tetapi juga memerlukan pembuktian ilmiah, kesiapan industri, dan pemenuhan standar keamanan sebelum dapat dimanfaatkan masyarakat. Di sisi lain, pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas riset pangan nasional.

Sejak diluncurkan pada 2006 sebagai kelanjutan Program Bogasari Nugraha yang dirintis pada 1998, IRN telah menerima lebih dari 19.200 proposal penelitian dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa S1 dari lebih dari 200 universitas dan perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

Dukungan program tersebut tidak hanya berupa bantuan dana penelitian, tetapi juga pendampingan oleh tim pakar lintas disiplin ilmu. Melalui proses seleksi, bimbingan, dan penilaian hasil penelitian, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memperkuat kemampuan ilmiah, mengembangkan pola pikir kritis, serta membangun jejaring dengan akademisi dan praktisi industri.

Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana, mengatakan dukungan terhadap penelitian mahasiswa merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang pangan.

“Dua puluh tahun perjalanan Indofood Riset Nugraha merupakan wujud konsistensi Indofood dalam mendukung generasi peneliti muda Indonesia. Kami ingin memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bereksplorasi, memperkuat kemampuan ilmiah, dan mengembangkan kekayaan pangan lokal menjadi gagasan inovasi yang relevan bagi masyarakat,” ujar Stefanus.

Menurut dia, investasi pada riset dan sumber daya manusia memiliki peran penting dalam membangun masa depan pangan Indonesia.

Selama dua dekade, IRN juga telah membangun jejaring alumni yang berkiprah sebagai akademisi, peneliti, profesional, dan wirausahawan. Jejaring tersebut menjadi salah satu modal untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan pangan.

Pada periode 2026–2027, sebanyak 83 peneliti terpilih akan menjalankan penelitian selama satu tahun dengan dukungan dana dan pendampingan Tim Pakar IRN. Rangkaian program tersebut telah dimulai sejak Juni 2026 melalui sosialisasi ke berbagai perguruan tinggi, dilanjutkan dengan pendaftaran hingga akhir Agustus dan proses seleksi proposal oleh tim pakar.

Simposium Pangan Nasional 2026 juga menjadi momentum penganugerahan peneliti terbaik Program IRN 2025–2026 serta penandatanganan kerja sama dan penyerahan simbolis bantuan dana penelitian bagi peserta periode berikutnya.

Penyelenggaraan simposium menjelang Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2026 turut mengangkat semangat Innovate Today. Nourish Tomorrow, yang menjadi tema peringatan tahun ini.

Stefanus berharap kolaborasi antara dunia usaha, akademisi, pemerintah, dan peneliti muda dapat terus diperkuat untuk menghasilkan inovasi pangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Melalui IRN dan Simposium Pangan Nasional, kami berharap kolaborasi antara dunia usaha, akademisi, pemerintah, dan peneliti muda dapat semakin kuat. Semangat ‘Innovate today. Nourish tomorrow’ mengingatkan kita bahwa riset dan pengembangan kapasitas yang dilakukan hari ini dapat menjadi fondasi bagi inovasi pangan di masa depan,” katanya.

Penguatan kolaborasi riset diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan sumber daya pangan lokal secara lebih luas, sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang mendukung ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia. (E-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *