
MENTERI Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi prima. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan civitas akademika Nankai University, Tianjin, Tiongkok, pada Sabtu (20/6) waktu setempat.
Dalam kuliah umum yang dihadiri oleh Rektor Nankai University President Chen Yulu beserta jajaran pimpinan universitas dan ratusan mahasiswa, Menkeu menjelaskan bahwa ketangguhan ekonomi domestik merupakan buah dari pengelolaan fiskal yang sehat dan prudent. Salah satu pilar utamanya adalah konsistensi menjaga defisit anggaran di bawah ambang batas 3% sesuai amanat undang-undang.
“Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 sebesar 5,61% (yoy), mengungguli banyak negara ekonomi G20 dan kawasan ASEAN,” ujar Purbaya dalam keterangan resmi yang diterima Senin (22/6).
Stabilitas Makro dan Ketahanan Energi
Menkeu memaparkan bahwa di tengah stabilisasi pasar global, Indonesia berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan yang tinggi dan stabilitas harga. Per Mei 2026, tingkat inflasi domestik tercatat sangat terkendali di level 3,08%. Kombinasi ini dinilai mempertebal kepercayaan pasar global terhadap kredibilitas manajemen makroekonomi nasional.
Selain indikator pertumbuhan, Indonesia juga menunjukkan keunggulan dalam aspek ketahanan energi global. Berdasarkan analisis risiko, Indonesia berada pada kuadran eksposur rendah dengan skor ketahanan mencapai 77%, melampaui Tiongkok yang berada di angka 76%.
Tabel: Indikator Utama Ekonomi Indonesia (Kuartal I – Mei 2026)
| Indikator Ekonomi | Capaian / Posisi |
|---|---|
| Pertumbuhan Ekonomi (Q1-2026) | 5,61% (yoy) |
| Tingkat Inflasi (Mei 2026) | 3,08% |
| PMI Manufaktur | 50,0 (Ekspansif) |
| Pertumbuhan Kredit Perbankan | 11,5% (yoy) |
| Cadangan Devisa | US$144,9 Miliar |
| Surplus Neraca Perdagangan | 72 Bulan Berturut-turut |
Dampak Riil pada Kesejahteraan Masyarakat
Purbaya menekankan bahwa performa impresif di level makro telah ditranslasikan secara nyata ke sektor riil. Perbaikan pasar tenaga kerja menjadi bukti konkret, di mana tercipta lapangan kerja baru bagi sekitar 1,9 juta orang. Hal ini mendorong penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 4,68% pada 2026.
Efektivitas program perlindungan sosial juga menunjukkan tren positif dalam pengentasan kemiskinan. Angka kemiskinan tercatat turun dari 8,57% pada September 2024 menjadi 8,25% pada September 2025.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh secara angka, tetapi bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja dan penurunan angka kemiskinan bagi masyarakat luas,” pungkas Menkeu. (Z-1)
