Film The Doll Ghawiah Segera Tayang di Bioskop, Kisahkan Awal Perjalanan Spiritual Laras
Konferensi pers film The Doll Ghawiah di Jakarta, Minggu (18/10).(MI/Rifaldi)

TEROR boneka menyeramkan dan perjalanan spiritual Laras berlanjut dalam karya layar lebar terbaru berjudul The Doll Ghawiah. Film garapan Hitmaker Studios ini merupakan prekuel dari trilogi horor populer The Doll yang telah mewarnai industri perfilman tanah air sejak tahun 2016.

Disutradarai Guntur Soeharjanto, film ini menyoroti awal perjalanan spiritual Laras (Sara Wijayanto). Kisahnya mengikuti proses Laras dalam menerima kemampuannya berkomunikasi dengan makhluk gaib demi menyelamatkan banyak nyawa.

“Ini prekuel sebenarnya, jadi asal mula dari kisah The Doll 1, 2, 3, bagaimana akhirnya Ibu Laras berproses menjadi karakter yang di universe The Doll. Film ini buat saya enggak sekadar horor gitu, tapi ada hiburannya, serta ada message story-nya bahwa dalam sebuah keluarga itu memang kita harus selalu terbuka dan berkomunikasi,” kata Guntur dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (18/10).

Film IMAX pertama Guntur

Bagi Guntur, The Doll Ghawiah sangat spesial dalam perjalanan kariernya. Telah melahirkan puluhan film, ini menjadi karya pertama Guntur yang tayang di Studio IMAX. Menghadirkan pengalaman menonton yang lebih imersif bagi penonton.

“Kayaknya saya bikin 30 film baru kali ini bikin film tayang di IMAX. Experience-nya memang beda banget. Ini sungguh spesial buat saya,” ungkap Guntur antusias.

Produser Rocky Soraya menyebut, bahwa hadirnya film ini di jaringan IMAX bukan inisiatif pihak studio, melainkan melalui proses kurasi ketat langsung dari pihak IMAX global. IMAX secara aktif menyeleksi film-film lokal Indonesia yang memiliki rasio adegan aksi, horor, serta kualitas visual-audio yang memenuhi standar layar raksasa.

“IMAX sendiri yang memilih film apa yang menurut mereka cocok. Mereka mewawancarai kami, melihat berapa persen aksi dan horornya. Setelah menonton, mereka merasa film ini pas. Minimal pengambilan gambar harus memenuhi standar 4K hingga 8K,” jelas Rocky.

Teknologi Animatronik dari AS

Salah satu aspek yang paling menyita perhatian dalam film ini adalah kehadiran sosok boneka Ghawiah yang menjadi ikon di film ini. Berbeda dari produksi horor konvensional yang kerap mengandalkan boneka statis atau rekayasa CGI murni, Hitmaker Studios merogoh kocek fantastis hingga miliaran rupiah demi menghidupkan boneka secara mekanis (animatronics).

Rocky membeberkan bahwa desain estetika boneka digarap langsung oleh seniman lokal Bali. Namun, untuk sistem mekanik animatronik di bagian dalam boneka, studio mengimpor teknologi dan jasa langsung dari Amerika Serikat (AS).

“Biayanya memang mahal, mencapai beberapa miliar rupiah. Desainnya dari seniman lokal di Bali, tapi animatroniknya bekerja sama dengan tim US Animatronics karena teknologi seperti ini belum tersedia di Indonesia,” papar Rocky.

Guntur menambahkan, untuk mendukung produksi syuting pihaknya tidak hanya membawa satu boneka Ghawiah melainkan hadir sejumlah boneka, baik boneka biasa maupun animatronik. Sehingga selama proses syuting, sekitar 80 persen adegan boneka menggunakan efek praktikal langsung di kamera.

“Jadi ketika syuting pun ada beberapa boneka, termasuk satu boneka yang memang bisa ngomong, bisa nengok, dan semua digerakkan dengan Wi-Fi gitu, dengan remote,” jelasnya.

Sinopsis The Doll Ghawiah

Secara garis besar, sinopsis The Doll Ghawiah menceritakan sebuah keluarga dari pasangan Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal), serta dua anak mereka Gita (Aisyah Aqilah) dan Nala (Laura Moane) yanga pindah dari Jakarta ke Bandung untuk memulai hidup baru. 

Namun kepindahan mereka justru menjadi sasaran teror dari arwah seorang anak perempuan bersama boneka kesayangannya Ghawiah. Dibantu oleh Laras (Sarah Wijayanto), keluarga itupun berusaha keluar dari terror boneka Ghawiah. Film ini pun dijadwalkan tayang pada 29 Oktober 2026.  (P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *