
INSIDEN penembakan brutal terjadi di Montreal, Kanada, pada Senin siang waktu setempat. Tragedi berdarah ini menewaskan tiga orang, yang terdiri dari seorang petugas polisi, seorang warga sipil, dan pelaku penembakan yang tewas di lokasi kejadian setelah terlibat baku tembak.
Kekerasan bersenjata di siang hari seperti ini tergolong sangat jarang terjadi di Montreal. Kepala Kepolisian Montreal, Fady Dagher, tidak dapat menyembunyikan emosinya saat memberikan keterangan kepada pers dan menyebut insiden ini “lebih dari sekadar mengerikan.”
“Ini adalah sebuah tragedi, sebuah mimpi buruk,” ujar Dagher.
Peristiwa ini bermula sekitar pukul 11.30 waktu setempat ketika polisi menerima laporan tentang adanya penembakan aktif di lingkungan Cote-des-Neiges. Saat petugas tiba di lokasi, baku tembak sengit langsung pecah. Pelaku yang mengenakan pakaian bergaya militer melepaskan tembakan dengan senjata laras panjang dari dalam sebuah bangunan.
Frank Vogas, 71, seorang saksi mata yang sedang membeli cat di toko sekitar lokasi, menceritakan kepanikannya saat rentetan tembakan terdengar.
“Saya melihat polisi menyerbu masuk, datang dari segala penjuru, dan mereka mengangkat senjata mereka,” kata Vogas. Ia menambahkan bahwa petugas langsung menginstruksikan orang-orang di dalam toko untuk tiarap di lantai. “Saya belum pernah melihat yang seperti ini.”
Dagher mengonfirmasi bahwa seorang polisi pria gugur dalam tugas, sementara seorang polisi wanita mengalami luka parah namun nyawanya berhasil diselamatkan. Pelaku penembakan juga dipastikan tewas di tempat setelah berhasil dilumpuhkan petugas. Sementara itu, detail mengenai identitas warga sipil yang tewas masih belum diungkap.
Lokasi penembakan yang berada di lingkungan komunitas Yahudi, dikelilingi pasar dan restoran kosher, sempat memicu spekulasi liar di media sosial bahwa insiden ini merupakan kejahatan kebencian antisemit. Terlebih, wilayah tersebut juga menjadi pusat beberapa institusi Yahudi, termasuk pusat pendidikan dan bank makanan.
Meski demikian, pihak kepolisian dengan tegas menolak berkomentar mengenai motif pelaku karena proses penyelidikan masih berjalan. Dagher juga mengimbau masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang belum terverifikasi.
“Sangat penting untuk sangat berhati-hati terhadap rumor,” tegas Dagher.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyatakan dirinya “ngeri” oleh kekerasan tersebut. Nada serupa juga disampaikan oleh Perdana Menteri Quebec, Christine Frechette, yang meminta publik menahan diri dari asumsi yang tidak berdasar.
“Sangat penting untuk membiarkan pihak berwenang melakukan tugas mereka dan menghindari spekulasi,” tambah Frechette.
Kawasan tersebut sempat ditutup total dan warga diminta tetap berada di dalam rumah selama operasi pengamanan berlangsung. Namun, menjelang Senin sore, situasi mulai kondusif, aparat bersenjata mulai meninggalkan lokasi, dan arus lalu lintas kembali dibuka untuk umum. (AFP/Z-2)
