
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menilai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut berkontribusi pada penurunan harga minyak dunia. Anggota DEN Mochammad Firman Hidayat optimistis terhadap konsistensi harga minyak dunia saat ini. Dengan itu, harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bisa kembali disesuaikan.
“Kita sudah lihat sekarang sudah turun dari US$80 dolar per barel. Harga yang April kemarin itu juga tinggi gara-gara ada perbedaan antara harga produk dan crude (minyak mentah),” kata Firman saat ditemui di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (17/6).
Dengan kondisi tersebut, ia meyakini harga BBM nonsubsidi bisa segera turun.
“Untuk solar nonsubsidi dan Pertamax, Apalagi kalau crude-nya bisa di bawah US$80, otomatis pasti akan ada penyesuaian lagi,” jelasnya.
Menurutnya, penyesuaian tersebut penting untuk memperkecil gap harga antara BBM nonsubsidi dengan BBM subsidi.
“Pemerintah saya yakin juga melihat (potensi gap harga), kenapa akhirnya pemerintah baru naikin Pertamax sekarang. Naikinnya kan masih bertahap, belum sepenuhnya ke harga keekonomian. Jadi pemerintah saya kira sudah cukup berhati-hati untuk memastikan tadi harga potensi perpindahan (pengguna) dari Pertamax ke Pertalite,” paparnya.
Di sisi lain, jika penurunan harga minyak dunia ini terus konsisten, DEN memproyeksikan rata-rata harga minyak dunia pada tahun ini di kisaran US$80-US$85 per barel.
“Ini bahkan lebih rendah dari perkiraan kita. Kita sempat simulasi sampai US$90 dolar, bahkan sampai US$100 dolar. Kalau harganya bisa konsisten seperti sekarang di bawah US$80 sampai akhir tahun, kita estimasi itu bakal rata-rata dari 2026 sekitar US$80-US$85 per barel,” ujar Firman.
“Artinya bedanya dengan (asumsi) APBN yang US$70 itu kan relatif bisa jaga lah, cuma (selisih) US$10-US$15. Jadi kita yakin sih fiskal akan aman lah, kita bisa maintain (defisit) di bawah 3%,” pungkasnya. (E-3)
