Ahli Waris Driver Ojol Terima Santunan BPJS Rp238 Juta plus Beasiswa Anak
Ahli waris almarhum Wahyudi Sugianto, seorang pengemudi ojek online (ojol) di Sidoarjo, menerima santunan jaminan kematian sebesar Rp238 juta.(MI/Hery Susetyo)

AHLI waris almarhum Wahyudi Sugianto, seorang pengemudi ojek online (ojol) di Sidoarjo, menerima santunan jaminan kematian sebesar Rp238 juta. Santunan dari BPJS Ketenagakerjaan tersebut juga mencakup fasilitas jaminan beasiswa pendidikan untuk anak almarhum, mulai dari jenjang TK hingga perguruan tinggi.

Selain keluarga ojol, santunan sebesar Rp109.728.060 juga diserahkan kepada Siti Rohma, ahli waris dari almarhum Abdul Malik yang merupakan mantan Perangkat Desa Plaosan, Kecamatan Wonoayu. Penyerahan santunan secara simbolis ini dilakukan di sela-sela peluncuran Gerakan Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Lingkungan RT/RW dan Rumah Ibadah (Gardu Sosial) di Tugu Jayandaru Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo, Minggu (21/6).

Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Fenny Apridawati menegaskan, penyerahan santunan ini menjadi bukti konkret pentingnya perlindungan jaminan sosial bagi pekerja informal atau mandiri (Bukan Penerima Upah/BPU) seperti ojol, agar keluarga yang ditinggalkan tidak jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem.

“Ini bukti hadirnya pemerintah untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Jika ikut program ini, sanak saudara dan anak-anak yang ditinggalkan pasti akan ditanggung pula beasiswanya, sehingga mencegah terjadinya kemiskinan mendadak,” ujar Fenny.

Fenny merinci, iuran untuk pekerja mandiri/informal terhitung sangat murah, yaitu hanya Rp11.800 per bulan. Sementara untuk pekerja penerima upah sebesar Rp16.800 per bulan, dengan manfaat perlindungan penuh biaya pengobatan jika terjadi kecelakaan kerja. Meski manfaat yang diberikan sangat besar, tingkat kesadaran masyarakat Sidoarjo dinilai masih perlu digenjot. 

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Sidoarjo, Arie Fianto Sofyan, mengungkapkan saat ini baru sekitar 487 ribu pekerja (39,60 persen) di Sidoarjo yang menjadi peserta aktif. Artinya, masih ada sekitar 631 ribu masyarakat pekerja di Sidoarjo yang belum terlindungi dan rentan terhadap risiko kemiskinan baru.

“Tantangan saat ini adalah masyarakat masih banyak yang menyamakan fungsi BPJS Kesehatan dengan BPJS Ketenagakerjaan. Melalui program Gardu Sosial ini, kita jadikan RT/RW dan rumah ibadah sebagai pusat edukasi,” jelas Arie.

Sebagai langkah awal, Pemkab Sidoarjo juga memberikan apresiasi kepada RW 9 Desa Sidorejo, Krian yang sukses mendaftarkan hampir 1.200 warganya, serta Masjid Al Barokah (Makah), Desa Sumput yang mengikutsertakan 42 pesertanya untuk menjadi role model gerakan sadar jaminan sosial di Sidoarjo. (E-2)

 

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *