
AKTIVITAS pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mulai bergerak kembali setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Media Iran melaporkan pada Senin malam waktu setempat bahwa tiga tanker minyak dan dua kapal kargo pembawa barang telah berhasil melewati kawasan perairan yang sebelumnya menjadi target blokade angkatan laut AS.
Perkembangan di lapangan ini sejalan dengan pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut bahwa jalur logistik energi vital dunia tersebut akan “terbuka sepenuhnya” pada hari Jumat pekan ini.
“Kapal-kapal mulai bergerak, banyak yang memuat minyak, keluar dari Selat Hormuz,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa dirinya tidak “berpikir kita akan membutuhkan banyak bantuan” untuk menjaga jalur perairan tersebut tetap terbuka.
Pembukaan kembali salah satu titik penyumbat (chokepoint) energi terpenting dunia ini menjadi titik terang untuk mengakhiri konflik mematikan dan kemelut ekonomi global, yang pertama kali dipicu oleh serangan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari lalu. Sejak awal perang, Iran telah memblokade selat tersebut hingga melambungkan harga minyak dunia. Langkah itu kemudian dibalas AS dengan memblokir seluruh pengiriman komersial dari dan menuju pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pihak AS, Iran, dan Pakistan selaku mediator menyatakan bahwa perjanjian damai tersebut akan ditandatangani secara fisik pada hari Jumat di Swiss. Kendati demikian, pejabat senior pemerintah AS membocorkan bahwa Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf sebenarnya telah menandatangani draf dokumen secara elektronik.
“Presiden ingin menandatanganinya secara pribadi karena beliau ingin menunjukkan… dedikasinya untuk membawa hal ini menuju penyelesaian yang sukses,” ungkap pejabat tersebut.
Saat ditanya di sela-sela KTT G7 di Prancis mengenai waktu perilisan draf kesepakatan ke publik, Trump menjawab: “Ini adalah dokumen yang sangat kuat, dan saya ingin dokumen ini dirilis. Jadi mungkin dalam waktu dekat.”
Di kubu Teheran, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan kesepakatan ini membawa “akhir segera” bagi perang, dengan negosiasi lanjutan menuju “perjanjian final” yang akan digelar dalam tempo dua bulan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyebutnya sebagai “pencapaian besar” bagi kawasan.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memilih untuk bersikap lebih realistis dan waspada dalam menanggapi kepatuhan AS di masa depan.
“Kita memiliki sejarah komitmen yang dilanggar,” kata Araghchi. “Kita memiliki sejarah perjanjian yang dirobek. Semua ini ada dalam pikiran kami.” (The Guardian/AFP/Z-2)
