Kualitas Udara Sejumlah Wilayah masih Buruk meski Hotspot Karhutla Turun
Ilustrasi(Dok BNPB)

KUALITAS udara di sejumlah wilayah Indonesia masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan berbahaya secara lokal, meskipun jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengalami penurunan. Kondisi ini terutama terpantau di beberapa bagian Kalimantan serta sejumlah wilayah di Sumatra dan Papua.

Berdasarkan pemantauan kualitas udara berbasis PM2,5 yang disampaikan Kementerian Kehutanan, sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, penurunan jumlah hotspot belum serta-merta diikuti pemulihan kualitas udara.

“Penurunan jumlah hotspot belum selalu langsung diikuti pemulihan kualitas udara,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi dalam siaran pers, Selasa (20/10).

Ristianto menjelaskan, asap, terutama yang berasal dari kebakaran lahan gambut, dapat bertahan dan bergerak mengikuti kondisi atmosfer meskipun jumlah hotspot berkurang.

Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Senin (19/10) pukul 21.00 WIB, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi tercatat 487 titik. Jumlah tersebut turun 617 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.104 titik.

“Untuk mengurangi dampak paparan asap, masyarakat di wilayah dengan kualitas udara memburuk diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar,” beber Ristianto. 

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.

Kementerian Kehutanan tetap memperkuat operasi pemadaman darat dan udara, termasuk pembasahan dan pendinginan lahan untuk memastikan api dan bara benar-benar terkendali. (E-4)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *