
SEJUMLAH wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih diselimuti fenomena udara kabur hingga Selasa (20/10/2026). Kondisi ini melanda beberapa titik strategis seperti Kota Kupang, Ba’a, Betun, Atambua, hingga Alor, yang diduga kuat dipengaruhi oleh sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenot’ek, menjelaskan bahwa berdasarkan laporan prakiraan cuaca, potensi udara kabur ini terjadi dalam rentang waktu yang berbeda. Pada pagi hingga sore hari, fenomena ini terpantau di Kota Kupang, Oelamasi, Ba’a, Betun, Atambua, dan Alor. Sementara pada malam hari, kondisi serupa berpotensi terjadi di Kota Kupang, Sabu, dan Alor.
“Pada dini hari, udara kabur diprakirakan kembali muncul di Kota Kupang, Oelamasi, Ba’a, Betun, Belu, dan Alor,” ujar Sti Nenot’ek dalam keterangannya, Selasa (20/10).
Analisis Satelit dan Pergerakan Angin
Indikasi adanya sebaran asap diperkuat oleh citra satelit Himawari-9 yang menunjukkan adanya partikulat asap yang mencapai wilayah Kota Kupang. Arah angin yang dominan bertiup dari timur-tenggara menuju barat laut-utara menjadi faktor utama yang membawa partikel asap tersebut ke wilayah NTT.
Meski demikian, BMKG menekankan bahwa sumber pasti titik api penyebab asap tersebut belum dapat dipastikan secara detail, sehingga pengaruh karhutla saat ini masih bersifat kesimpulan sementara.
Selain udara kabur, BMKG juga memprediksi adanya potensi kabut di wilayah dataran tinggi seperti Soe, Bajawa, dan Ruteng pada dini hari. Adapun cuaca umum di NTT pada Rabu (21/10) diprakirakan cerah hingga berawan tebal pada pagi hari, serta cerah berawan pada siang hingga sore hari.
Hambatan Atmosfer dan Risiko Kemarau
Berdasarkan data sounding udara atas dari Stasiun Meteorologi El Tari per 8 Oktober 2026, ditemukan adanya dua lapisan atmosfer stabil atau inversi subsidensi pada ketinggian 2,8 kilometer dan 3,9 kilometer. Kondisi atmosfer ini tidak memicu munculnya asap, namun menghambat pergerakan udara secara vertikal.
Catatan Meteorologi: Lapisan stabil menyebabkan asap yang berada di lapisan bawah atmosfer cenderung bertahan lebih lama dan memperlambat proses penyebarannya ke lapisan yang lebih tinggi.
Saat ini, NTT masih berada dalam puncak musim kemarau yang dipicu oleh aktifnya monsun timur. Angin kering dengan kecepatan berkisar antara 10 hingga 40 kilometer per jam menjadi ancaman serius karena dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan secara cepat, terutama pada vegetasi yang sudah mengering.
Suhu udara di wilayah NTT secara umum diprakirakan berada pada rentang 19-36 derajat Celsius. Sementara untuk wilayah dataran tinggi seperti Manggarai dan Ngada, suhu udara berkisar antara 17-29 derajat Celsius.
Pemerintah melalui BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah secara terbuka, serta menghindari segala aktivitas yang berpotensi memicu titik api baru di tengah kondisi cuaca kering dan angin kencang. (H-2)
