
WAKIL Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa perempuan perlu memperkuat peran dan kehadirannya di ruang publik melalui karya tulis guna melawan bias gender, membongkar ketidakadilan struktural, serta memengaruhi arah kebijakan nasional. Pengalaman serta pemikiran kritis perempuan yang terdokumentasi dengan baik dinilai menjadi fondasi utama bagi perubahan sosial sekaligus menjaga agar kontribusi sejarah mereka tidak terhapus oleh zaman.
Lestari mengatakan, menulis merupakan agensi strategis bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman, membangun pengetahuan, dan mendorong perubahan.
Menurut dia, perempuan tidak cukup hanya menjadi objek pemberitaan atau kebijakan, tetapi harus hadir sebagai subjek yang memproduksi gagasan dan menentukan arah perubahan.
“Menulis adalah cara memastikan bahwa perempuan hadir dalam ingatan dan bahwa kemudian apa yang dicatat oleh perempuan itu bisa menjadi dasar dari pertimbangan dan bagian yang penting dari pengambilan kebijakan ataupun keputusan,” kata Lestari dalam kegiatan APN Woman’s Writing Clinic, Kamis (22/10).
Kegiatan yang diselenggarakan Akademi Perempuan NasDem (APN) dalam rangka memperingati HUT ke-15 Partai NasDem tersebut mengangkat tema Perempuan Menulis, Agensi Strategis. Forum ini mendorong perempuan mengasah keterampilan menulis esai dan opini sekaligus memperkuat keterlibatan mereka dalam membentuk percakapan publik.
Lestari menilai, banyak perempuan berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian, merawat kebudayaan, mendampingi masyarakat, dan memperjuangkan perubahan. Namun, pengalaman tersebut tidak seluruhnya tercatat ataupun diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
“Perempuan itu tidak kekurangan pengalaman, tidak kekurangan pengetahuan, tidak kekurangan gagasan,” ujarnya.
Menurut Lestari, pengalaman perempuan yang tidak dituangkan dalam tulisan berisiko kehilangan pengaruh dalam percakapan publik. Karena itu, gerakan sosial dan kerja advokasi perlu disertai dokumentasi agar pengalaman di lapangan dapat menjadi referensi bagi masyarakat maupun pembuat kebijakan.
“Perubahan sosial itu membutuhkan dua hal sekaligus. Gerakan di lapangan dan pertarungan gagasan di ruang publik,” katanya.
Ia mencontohkan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang hingga kini menjadi rujukan untuk memahami pemikiran dan perjuangan perempuan. Melalui tulisan, kegelisahan pribadi dapat berkembang menjadi gagasan yang mendorong perubahan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lestari berharap APN Woman’s Writing Clinic dapat membantu perempuan menghasilkan tulisan yang tajam, bernas, dan berdampak. Dalam jangka panjang, ia berharap tulisan para peserta dapat dihimpun menjadi buku yang merekam pemikiran dan perjalanan perjuangan perempuan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pemberitaan Media Indonesia, Abdul Kohar, menekankan bahwa menulis bukan sekadar menjadi sarana menyampaikan pikiran. Tetapi juga cara memperjuangkan perubahan, membentuk opini publik, dan mengoreksi kekuasaan.
Mengutip pemikiran sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Kohar mengingatkan pentingnya menulis untuk meninggalkan jejak pemikiran yang dapat bertahan melampaui masa hidup penulisnya. “Menulis itu bekerja untuk keabadian,” ujarnya.
Menurut Kohar, tulisan memungkinkan gagasan didokumentasikan, dibaca kembali, diperdebatkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, perempuan perlu menggunakan tulisan untuk menyampaikan pengalaman dan mengkritisi cara pandang yang masih menempatkan mereka dalam posisi subordinat.
Ia mencontohkan praktik menyalahkan korban kekerasan seksual berdasarkan waktu beraktivitas atau pakaian yang dikenakan. Cara pandang tersebut, menurut dia, menunjukkan adanya bias gender yang masih hidup di masyarakat dan perlu diubah. “Situasi itu atau fakta-fakta seperti itu harus diubah,” katanya.
Kohar menilai, perubahan dapat diperjuangkan melalui tulisan yang menyampaikan argumentasi secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Penulis opini tidak cukup hanya mengulang pendapat orang lain, tetapi harus mempunyai pandangan sendiri yang didukung argumentasi kuat,” jelas Kohar.
Ia juga menekankan pentingnya kepekaan terhadap persoalan sosial, kejernihan berpikir, keberanian menyampaikan gagasan, serta keteguhan dalam mengambil sikap. Dengan demikian, tulisan tidak berhenti sebagai ekspresi pribadi, tetapi mampu menawarkan perspektif dan solusi bagi masyarakat.
(P-4)
