
GLETSER Thwaites di Antartika berpotensi memberikan kontribusi yang jauh lebih besar terhadap kenaikan permukaan air laut global pada akhir abad ini dibanding perkiraan sebelumnya. Temuan tersebut terungkap dalam studi terbaru yang memanfaatkan pemodelan komputer hasil pengembangan Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di California Selatan, bekerja sama dengan University of California, Irvine, serta Dartmouth College.
Dalam beberapa simulasi pemodelan yang dilakukan, kontribusi laju pencairan gletser tersebut terhadap kenaikan air laut bahkan tercatat mencapai hingga dua kali lipat dari proyeksi yang ada saat ini.
Studi yang dipublikasikan pada 12 Oktober di jurnal Nature Communications ini berhasil menekan tingkat ketidakpastian proyeksi jangka panjang dengan berfokus pada zona transisi, wilayah tempat es gletser tidak lagi terikat pada daratan dan mulai mengapung di atas air.
Penyusupan Air Laut dan Konsep ‘Grounding Zones’
Selama ini, model lembaran es yang ada umumnya memperlakukan wilayah transisi tersebut sebagai batas garis yang tegas, yang dikenal dengan istilah grounding lines. Berbeda dari metode lama, model baru ciptaan para peneliti memasukkan faktor kawasan tersebut sebagai grounding zones.
Grounding zones mengacu pada area di mana air laut dapat menyusup hingga beberapa mil di bawah es gletser yang menempel di daratan. Proses ini mengangkat lapisan es selama siklus pasang surut air laut dan memicu ketidakstabilan struktur es.
Masuknya air laut yang bersuhu lebih hangat ke area es daratan tersebut mengakibatkan percepatan pencairan. Fenomena ini memicu destabilisasi gletser secara lebih masif dibandingkan jika area transisi tersebut hanya dianggap sebagai garis batas tunggal yang terpisah.
Akurasi Pemodelan Meningkat Empat Kali Lipat
Penerapan variabel grounding zones terbukti meningkatkan akurasi pemodelan dalam mensimulasikan kemunduran atau pencairan gletser. Saat diuji, hasil simulasi model baru ini empat kali lebih cocok dengan data satelit historis sejak era 1990-an dibandingkan model-model terdahulu yang mengabaikan faktor penyusupan air laut tersebut.
Para peneliti meyakini bahwa pemodelan ini mampu menyajikan informasi yang jauh lebih andal mengenai dinamika pergerakan gletser. Informasi presisi ini sangat krusial bagi wilayah-wilayah pesisir di berbagai belahan dunia yang paling rentan terdampak oleh ancaman kenaikan permukaan air laut. (NASA/Z-2)
