
DIREKTUR Utama I.League, Ferry Paulus, mendorong PSSI untuk menjatuhkan sanksi yang jauh lebih berat kepada klub apabila kericuhan suporter tandang kembali terulang dalam kompetisi sepak bola nasional. Langkah tegas ini dinilai krusial guna menjaga keamanan dan keselamatan pertandingan di tengah upaya pelonggaran kehadiran penonton tim tamu.
Kebijakan pelonggaran suporter away yang telah didorong selama hampir tiga tahun ini sejatinya diizinkan PSSI dengan pantauan FIFA. Namun, maraknya insiden kerusuhan dalam beberapa laga terakhir di Super League maupun Championship memicu evaluasi mendalam. Ferry menegaskan perlunya hukuman yang memberikan efek jera lebih kuat.
“Kami akan terus mendorong kepada PSSI untuk bisa diberikan sanksi yang lebih besar daripada yang sekarang ini. Bahkan jika perlu, tidak boleh ada suporter away khusus untuk beberapa klub yang benar-benar sangat mengganggu ini,” tegas Ferry Paulus dalam konferensi pers, Rabu (21/10).
Salah satu insiden yang disorot adalah bentrokan saat laga Persita Tangerang menjamu Persija Jakarta di Banten International Stadium (BIS), Sabtu (17/10). Meski awalnya tidak ada indikasi kerusuhan, situasi memanas di tribune akibat provokasi yang menyebabkan laga terhenti selama 31 menit. Akibatnya, Komdis PSSI menjatuhkan sanksi larangan suporter tandang selama setengah musim bagi Persija serta total denda Rp90 juta, sementara panpel Persita didenda Rp40 juta.
Kericuhan serupa juga terjadi di ajang Championship 2026/2027 saat PSGC Ciamis menjamu PSIS Semarang di Stadion Galuh pada hari yang sama. Insiden yang bermula dari jebolnya pintu pembatas tribune ini berujung pada sanksi larangan suporter away selama enam pertandingan bagi PSIS dan denda total Rp35 juta bagi PSGC Ciamis.
Ferry mengingatkan bahwa sanksi Komdis akan bertambah berlapis jika pelanggaran serupa diulangi. Hal ini penting dilakukan agar tren positif sepak bola nasional, termasuk prestasi Persib Bandung dan Borneo FC di level internasional, tidak terganggu oleh masalah keamanan domestik.
Guna mengantisipasi kekacauan susulan, I.League memperkuat sinergi bersama PSSI dan kepolisian melalui mekanisme peringatan dini (early warning). Klub juga diminta bertanggung jawab penuh dalam mengedukasi pendukungnya secara berkelanjutan demi kelangsungan kompetisi yang kondusif. (Z-10)
