
SEKITAR 200 investor, pimpinan bisnis, dan perwakilan pemerintah berkumpul di Jakarta pada 21 Oktober 2026 dalam gelaran Indonesia Impact Investment Summit 2026. Forum strategis ini diselenggarakan oleh Indonesia Impact Alliance (IIA) bekerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, serta didukung oleh Pemerintah Australia melalui program Investing in Women dan KINETIK.
Fokus utama pertemuan ini adalah mencari solusi atas kesenjangan pembiayaan yang masih mencekik sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Padahal, UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional yang menyumbang sekitar 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap hingga 97% tenaga kerja di Indonesia.
Fenomena ‘Missing Middle’ dan Tantangan Modal
Data IIA mengungkapkan adanya jurang pembiayaan yang signifikan bagi usaha yang membutuhkan modal di rentang US$100.000 hingga US$2 juta. Kelompok ini sering disebut sebagai missing middle, yakni usaha yang sudah terlalu besar untuk pembiayaan mikro namun dianggap terlalu kecil bagi investor besar.
| Indikator | Nilai/Persentase |
|---|---|
| Kesenjangan Pembiayaan (Modal US$100rb – US$2jt) | US$50,8 Miliar per tahun |
| Usaha yang Membutuhkan Modal Rentang Tersebut | 55% dari total usaha yang disurvei |
| UMKM yang Dipimpin Perempuan (BPS 2025) | 64,5% |
| Perempuan Pengambil Keputusan di Modal Ventura | 18,2% |
| Kesenjangan Pembiayaan Berkelanjutan Nasional | US$1,7 Triliun – US$8,7 Triliun |
Atika Benedikta, Direktur Eksekutif Indonesia Impact Alliance, menekankan pentingnya peran perantara (intermediaries) lokal. “Penyedia modal lokal memahami karakteristik bisnis di Indonesia. Melalui forum ini, kami ingin memobilisasi modal agar lebih banyak usaha berdampak dapat bertumbuh dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Investasi Berperspektif Gender
Kesenjangan ini terasa lebih nyata pada usaha yang dipimpin perempuan. Meski mendominasi 64,5% UMKM, keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan di sektor modal ventura masih sangat rendah (18,2%). Investasi berperspektif gender pun didorong sebagai pendekatan untuk membuka peluang pendanaan yang lebih adil sekaligus memberikan keuntungan finansial yang kompetitif bagi investor.
Mendukung Indonesia Emas 2045 dan SDGs
Bappenas menegaskan bahwa investasi berdampak (impact investment) adalah kunci untuk menutup celah pembiayaan berkelanjutan Indonesia. Leonardo A. A. Teguh Sambodo, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, menyatakan bahwa Indonesia saat ini berada di jalur yang tepat dengan capaian indikator SDGs lebih dari 62%.
“Kami berharap forum ini mempercepat manfaat pembangunan bagi masyarakat. Modal swasta harus disalurkan ke sektor energi bersih, kesehatan, pendidikan, dan usaha mikro untuk mendukung ekonomi inklusif menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Leonardo.
Kesiapan Investasi dan Jaringan Global
Namun, tantangan tidak hanya datang dari sisi ketersediaan modal. Adisti Chandra, COO Instellar Impact, menyoroti bahwa banyak usaha sosial yang telah lulus program akselerator ternyata belum tentu siap menerima investasi (investment ready) karena perbedaan kriteria antara pengelola program dan investor.
Sebagai sekretariat Global Steering Group (GSG) Impact Indonesia National Partner, IIA berkomitmen menjembatani pelaku usaha lokal dengan jaringan internasional. Indra Darmawan, Chairperson Advisory Board GSG Impact Indonesia, menambahkan bahwa investasi berdampak harus menghasilkan keuntungan finansial sekaligus manfaat lingkungan dan sosial yang terukur.
Pertemuan ini diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi berlanjut pada penilaian usaha yang konkret dan kesepakatan pembiayaan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hijau dan inklusif di tanah air. (Z-1)
