
Pemerintah melaporkan tidak ada lagi keluarga yang tinggal di tenda pengungsian darurat di Provinsi Aceh pascabencana. Hingga 16 Oktober 2026, sebanyak 18.916 unit hunian sementara (huntara) telah selesai dibangun dari target 18.949 unit, sementara sejumlah pekerjaan pemulihan infrastruktur dan layanan dasar masih berlangsung.
Kepala Posko Wilayah Satgas PRR Aceh, Safrizal ZA, mengatakan pemulihan terus dilakukan melalui koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, kementerian dan lembaga, serta masyarakat.
“Alhamdulillah, berbagai indikator utama pemulihan terus menunjukkan perkembangan yang positif. Layanan dasar masyarakat telah pulih, pengungsi di tenda sudah nihil, dan berbagai program rehabilitasi maupun rekonstruksi terus berjalan sesuai target. Ini merupakan hasil sinergi seluruh pihak yang bekerja bersama untuk memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal,” kata Safrizal, Senin (19/10).
Berdasarkan data harian Posko Wilayah per 16 Oktober 2026, pembangunan huntara telah mencapai sekitar 99,8% dari target. Pemerintah juga melaporkan penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH) telah mencapai 100% kepada 18.422 kepala keluarga penerima manfaat.
Meski pengungsi di tenda darurat tercatat nihil, penyelesaian pembangunan hunian dan pemulihan kehidupan warga masih menjadi bagian dari pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Listrik dan Telekomunikasi Pulih, Sumur Bor Belum Rampung
Pada sektor utilitas publik, pemerintah melaporkan jaringan listrik di seluruh wilayah terdampak telah pulih 100%. Distribusi energi juga disebut kembali beroperasi penuh, mencakup 156 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), 11 stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE), serta 131 agen LPG.
Pemulihan jaringan telekomunikasi juga dilaporkan mencapai 100% setelah perbaikan terhadap 3.815 base transceiver station (BTS) terdampak. Namun, pekerjaan penyediaan air bersih masih berlangsung. Dari target 1.434 unit sumur bor, sebanyak 920 unit telah selesai dibangun, sedangkan 514 unit lainnya masih dalam pengerjaan.
Berdasarkan rincian Satgas PRR, TNI AD telah menyelesaikan 259 dari target 345 sumur bor. Kementerian Pekerjaan Umum menyelesaikan 132 dari target 211 unit, sedangkan BNPB menyelesaikan 119 dari target 296 unit.
Polri telah menyelesaikan seluruh target 260 unit. Sementara itu, Satgas PRR telah membangun 150 dari target 322 unit. Pembangunan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) komunal juga belum sepenuhnya rampung. Dari target 72 unit, sebanyak 54 unit telah selesai dibangun. Di sisi lain, operasi pembersihan lumpur dan material longsor dilaporkan telah tuntas di seluruh 650 lokasi sasaran.
Jembatan dan Normalisasi Sungai Masih Berproses
Pemulihan akses transportasi menjadi pekerjaan lain yang masih berjalan. Berdasarkan data operasional Kodam Iskandar Muda, pembangunan jembatan perintis dan jembatan gantung di sejumlah wilayah masih berlangsung. Salah satunya jembatan di Desa Sikundo yang tercatat memiliki progres fisik antara 41% dan 50%.
Satgas Jembatan Polri telah menyelesaikan 21 jembatan perintis di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Tengah, dan Bener Meriah. Satu jembatan lainnya di Desa Samarena, Kabupaten Bener Meriah, masih dibangun dengan progres 60%.
Pemulihan lingkungan juga belum selesai. Dari 31 sungai yang menjadi sasaran normalisasi, sebanyak 10 sungai telah selesai ditangani dan 21 lainnya masih dalam pengerjaan.
Adapun normalisasi muara baru rampung di dua dari total 23 lokasi sasaran. Dengan demikian, masih terdapat 21 muara yang dalam proses penanganan.
Kegiatan Belajar Mengajar Berjalan di Sekolah Terdampak
Di sektor pendidikan, pemerintah menyatakan seluruh 3.120 sekolah terdampak tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar, baik di ruang kelas darurat maupun di fasilitas sekolah asal. Tidak ada lagi sekolah yang menggelar pembelajaran menggunakan tenda terbuka.
Untuk mendukung kegiatan belajar, pemerintah telah mendistribusikan 292.319 paket perlengkapan sekolah (school kit), 198.294 unit mebel, serta 1.361.981 eksemplar buku teks dan nonteks. Safrizal mengatakan Satgas PRR Aceh akan terus mengawal penyelesaian program rehabilitasi dan rekonstruksi yang masih berjalan.
“Fokus kami saat ini adalah menuntaskan seluruh pekerjaan yang masih berproses, memperkuat koordinasi lintas sektor, dan memastikan setiap intervensi benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Pemulihan tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik, tetapi juga dari pulihnya aktivitas sosial, ekonomi, dan kualitas hidup warga secara berkelanjutan,” ujar Safrizal. (E-3)
