IHSG Berpotensi Menguat Respons Kebijakan Bursa terkait MSCI
Ilustrasi.(Magnific)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (20/10/2026) berpotensi bergerak menguat. Pelaku pasar merespons positif kebijakan otoritas pasar modal Indonesia yang menindaklanjuti evaluasi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Meski sempat dibuka melemah, IHSG pada pukul 09.25 WIB terpantau bergerak menguat 135,75 poin atau 2,72 persen ke posisi 5.132,36. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 23,86 poin atau 4,88 persen ke posisi 512,32.

“Jika saham-saham dengan kapitalisasi besar mulai rebound, IHSG berpotensi untuk menguat di atas level 5.000 pada perdagangan Selasa,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Respons Kebijakan Otoritas Bursa

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari langkah otoritas pasar modal yang mengubah batas Auto Reject Bawah (ARB) menjadi 7 persen. Meskipun tekanan jual masih berlangsung, sejumlah saham mulai bangkit dari level ARB setelah beberapa emiten mengumumkan aksi korporasi berupa buyback saham.

Selain itu, BEI mengumumkan dua inisiatif strategis baru, yakni:

  • Penambahan keterangan status afiliasi atau non-afiliasi pada publikasi nama pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1 persen.
  • Pengeluaran seluruh saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.

Saat ini, tercatat sebanyak 80 saham masuk dalam kategori HSC dengan bobot mencapai 18 persen dari IHSG. Ratna menjelaskan bahwa kebijakan ini diharapkan dapat mendukung pemenuhan standar MSCI agar pergerakan indeks mencerminkan kondisi pasar yang lebih wajar.

Namun, ia mengingatkan adanya potensi penyesuaian jangka pendek. “Proses penyesuaian ini dapat meningkatkan volatilitas pasar, namun diharapkan mendukung pembentukan indeks yang lebih mencerminkan kondisi pasar dan likuiditas saham secara representatif,” tambahnya.

Sentimen Global dan Harga Komoditas

Dari mancanegara, mayoritas saham di Amerika Serikat ditutup menguat pada Senin (19/10), melakukan rebound setelah aksi jual tajam di sektor kecerdasan buatan (AI). Investor kini mulai mengalihkan perhatian pada rilis laporan laba kuartalan yang dijadwalkan pekan ini.

Di sisi lain, pasar minyak dunia terus dipantau dengan waspada akibat meningkatnya ketegangan geopolitik. Serangan terhadap infrastruktur energi antara Ukraina dan Rusia, termasuk serangan terminal minyak di St. Petersburg, telah mendorong kenaikan harga minyak berjangka.

Update Harga Komoditas & Pasar Global:

  • Minyak WTI: US$103 per barel.
  • Minyak Brent: US$109 per barel.
  • S&P 500: Menguat 0,41% ke level 7.690,73.
  • Nasdaq: Menguat 1,11% ke level 26.430,89.

Sementara itu, bursa regional Asia bergerak variatif cenderung melemah pada Selasa pagi. Indeks Nikkei turun 0,70 persen, Hang Seng melemah 1,11 persen, dan Kospi terkoreksi 2,45 persen. Sebaliknya, indeks Strait Times Singapura berhasil menguat tipis 0,35 persen.

Investor juga tengah menantikan keputusan kebijakan The Fed pekan depan, di mana otoritas moneter AS tersebut diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap pada level saat ini. (Ant/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *