Paparan Kekerasan hingga Pengaruh Teman Sebaya Picu Perundungan Anak
Ilustrasi(Magnific.com)

PERUNDUNGAN ekstrem yang dilakukan anak terhadap teman sebaya dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari paparan kekerasan di lingkungan sekitar, kurangnya kemampuan mengelola emosi, hingga dorongan untuk menunjukkan kekuasaan dan memperoleh pengakuan dari kelompoknya.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari Lembaga Psikologi Universitas Indonesia (UI), Vera Itabiliana menjelaskan bahwa perilaku kekerasan pada anak dapat berkembang ketika mereka menganggap tindakan tersebut sebagai cara untuk mendapatkan keinginan atau menunjukkan kekuasaan.

“Perundungan ekstrem biasanya muncul dari gabungan berbagai faktor. Anak dapat belajar bahwa kekerasan merupakan cara untuk mendapatkan keinginan, menunjukkan kekuasaan, atau memperoleh pengakuan dari kelompoknya,” kata Vera saat dihubungi, Senin (19/10).

Menurut dia, risiko perilaku kekerasan meningkat ketika anak terbiasa melihat kekerasan, kurang mendapat bimbingan untuk mengelola emosi dan mengembangkan empati, serta mendapati perilaku menyakiti orang lain terus dibiarkan.

Pada rentang usia anak-anak, kemampuan mengendalikan dorongan dan mempertimbangkan akibat dari suatu tindakan masih berkembang. Pengaruh teman sebaya dan pembiaran orang dewasa juga dapat membuat perilaku kekerasan semakin jauh karena anak merasa tindakannya diterima.

“Namun, usia bukan pembenaran untuk menyakiti. Untuk kasus tertentu, kita tetap memerlukan pemeriksaan menyeluruh sebelum menyimpulkan motif maupun kondisi psikologis anak,” ujarnya.

Vera menegaskan, langkah pertama untuk mengatasi perundungan adalah menghentikan kekerasan dan memastikan korban serta anak-anak lain berada dalam kondisi aman.

Orang tua dan pihak sekolah perlu menegaskan bahwa perilaku menyakiti orang lain tidak dapat diterima. Hal tersebut harus disertai konsekuensi yang konsisten dan sesuai usia anak, tanpa menggunakan kekerasan atau mempermalukannya.

“Jangan berhenti pada permintaan maaf, karena yang perlu berubah adalah cara anak berpikir dan bertindak,” tegasnya.

Ia mengatakan, anak perlu menjalani asesmen psikologis untuk mengetahui pemicu perilakunya sekaligus menentukan pendampingan yang sesuai. Anak juga perlu dilatih mengenali kemarahan, menenangkan diri, memahami perasaan orang lain, serta menyelesaikan konflik tanpa menyakiti.

Selain itu, orang tua perlu mengevaluasi teladan dan pola pengasuhan di rumah agar anak memperoleh contoh perilaku yang baik dalam menghadapi masalah.

Pada kasus kekerasan berat, pendampingan harus dilakukan secara intensif dengan melibatkan keluarga dan sekolah serta dipantau secara berkala.

“Anak tetap perlu belajar bertanggung jawab atas perbuatannya. Keberhasilan penanganan terlihat dari perubahan perilaku yang bertahan, dengan keselamatan dan pemulihan korban tetap menjadi prioritas,” tuturnya. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *