Gol A Gong Dukung Gagasan Menbud, Pelestarian Budaya Perlu Berkelanjutan
Ilustrasi(IG Gol A Gong)

PEMAJUAN kebudayaan Indonesia membutuhkan keterlibatan pemerintah dan komunitas lokal. Penulis sekaligus pegiat literasi Heri Hendrayana Harris atau dikenal dengan nama pena Gol A Gong menilai, perhatian terhadap rumah budaya, museum, dan ruang literasi di daerah menjadi langkah penting untuk menjaga kekayaan budaya Indonesia.

Menurut Gol A Gong, Menteri Kebudayaan Fadli Zon telah menunjukkan perhatian terhadap pengembangan kebudayaan melalui kunjungan ke berbagai daerah dan ruang budaya. Ia mencontohkan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Banyumas, rumah puisi Taufiq Ismail, Museum Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Payakumbuh, serta rumah kelahiran Tan Malaka.

Ia menilai, langkah tersebut dapat mendorong komunitas lokal untuk semakin aktif mengembangkan kebudayaan. Dukungan lintas sektor, termasuk melalui lembaga seperti Badan Bahasa, juga diperlukan agar komunitas literasi dan budaya dapat terus berkembang.

Gol A Gong juga menilai Indonesia memiliki peradaban yang kuat, tercermin dari tradisi dan adat istiadat yang masih dipegang masyarakat. Meski demikian, penulisan sejarah dan peradaban perlu terus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman, tanpa menghapus catatan masa lalu.

“Menulis ulang itu memang perlu, tetapi bukan berarti menghapus. Harus menggunakan ilmu pengetahuan, pendekatan antropologi dan sosiologi,” ujarnya.

Menurut dia, peradaban terus berkembang, mulai dari era berburu dan bercocok tanam, industri, hingga era digital saat ini. Kehadiran teknologi dan kecerdasan buatan membuka peluang bagi masyarakat untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menghasilkan karya dan pengetahuan.

“Orang-orang sekarang mencipta, tidak lagi hanya menjadi konsumen. Handphone atau gadget-nya dipakai sebagai alat produksi,” katanya.

Dokumentasi Budaya Perlu Berkelanjutan

Gol A Gong mengakui masih banyak peninggalan budaya Indonesia yang belum terdokumentasi dengan baik. Dengan wilayah yang luas dan ribuan pulau, pendataan serta pelestarian budaya membutuhkan kerja berkelanjutan dan tidak bisa dibebankan kepada satu era atau pemeritahan saja.

Ia mencontohkan pengembangan budaya seperti rumah  sastrawan AA. Navis atau Museum Literasi Gol A Gong di Banten yang diharapkan menjadi rujukan bagi masyarakat dan peneliti untuk mengenal sejarah serta budaya daerah tersebut.

Menurut dia, keberadaan museum dan rumah sastra di berbagai daerah penting untuk memperkuat identitas lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat luas.

Terkait pemulangan benda cagar budaya Indonesia yang berada di luar negeri, Gol A Gong menyatakan dukungannya. Namun, ia menilai proses tersebut perlu mempertimbangkan sejarah kepemilikan dan mekanisme negosiasi.

“Saya setuju kalau semua kekayaan cagar budaya kita itu dibawa pulang. Tapi bagaimana negosiasinya? Apakah gratis atau kita memberikan kompensasi?” ujarnya.

Ia mengapresiasi upaya Kementerian Kebudayaan dalam mengembangkan dan mensosialisasikan program kebudayaan. Menurut dia, upaya tersebut perlu terus dilanjutkan melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, dan masyarakat agar kekayaan budaya Indonesia tetap terpelihara dan berkembang. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *