
Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pengabdian nyata kepada masyarakat, melampaui sekadar perayaan seremonial. Di tengah tantangan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Riau, prioritas pada kesehatan dan keselamatan warga menjadi poin utama dalam peringatan tahun ini.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat sekaligus Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, dijadwalkan memimpin langsung Apel Hari Santri Nasional ke-XII. Kegiatan tersebut akan dipusatkan di Pondok Pesantren Darul El Hikmah, Simpang Baru, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, pada 22 Oktober 2026.
Anggota DPR RI Fraksi PKB dari Daerah Pemilihan Riau II, Mafirion Syamsuddin Rogo, menyatakan bahwa pemilihan Pekanbaru sebagai lokasi apel nasional memiliki makna strategis. Hal ini berkaitan erat dengan kondisi masyarakat yang saat ini masih berjuang menghadapi dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
“Hari Santri memang menjadi pestanya para santri. Namun, ketika masyarakat sedang menghadapi bencana, kepedulian tidak bisa ditawar. Inilah saatnya semangat pengabdian santri diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya teori atau seremoni,” ujar Mafirion dalam keterangannya, Minggu (18/10/2026).
Mafirion menekankan bahwa komitmen Gus Muhaimin terhadap isu lingkungan dan kebencanaan harus diterjemahkan menjadi aksi konkret yang manfaatnya dirasakan langsung oleh warga terdampak. Menurutnya, peringatan HSN harus tetap menjadi ruang ekspresi kebanggaan santri tanpa mengabaikan penderitaan rakyat.
Lebih lanjut, ia menilai persoalan karhutla yang berulang di Riau merupakan pengingat pentingnya perlindungan lingkungan yang berkelanjutan. Dampak asap sangat mengancam kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Oleh karena itu, momentum HSN 2026 didorong untuk memperkuat gerakan solidaritas sosial dan edukasi bahaya asap melalui jaringan pesantren.
Fokus Pengabdian: Pesantren dinilai memiliki potensi besar sebagai penggerak pelestarian alam karena memiliki kekuatan nilai dan semangat gotong royong yang kuat di tengah masyarakat.
Mafirion menambahkan bahwa masyarakat yang berdaya adalah mereka yang tidak hanya sejahtera secara ekonomi, tetapi juga terlindungi kesehatan dan lingkungan hidupnya. Ia berharap kehadiran Gus Muhaimin di Pekanbaru dapat mempertegas pesan bahwa santri akan selalu hadir bersama rakyat, terutama di masa sulit.
“Komitmen Gus Muhaimin dan PKB jelas, Hari Santri harus menjadi perayaan yang membanggakan, sekaligus momentum untuk memperkuat keberpihakan kepada rakyat. Ketika ada masyarakat yang kesulitan akibat karhutla, kita harus hadir, bergerak, dan memberikan bantuan nyata,” pungkasnya. (E-3)
