AI Buka Peluang Global dalam Mendukung Pengembangan Bisnis
(MI/HO)

PEMANFAATAN kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuka peluang baru bagi pelaku usaha Indonesia untuk menjangkau pasar internasional. Namun, teknologi saja dinilai tidak cukup. Pemahaman terhadap kebutuhan pasar, kesiapan tim, dan kemampuan mengeksekusi peluang tetap menjadi faktor penentu dalam membangun bisnis yang kompetitif di kancah global.

Perspektif tersebut disampaikan National Executive Vice President (NEVP) Junior Chamber International (JCI) Indonesia, Istia Sofyania, pada ajang Global Edge Summit 2026, Selasa (13/10). Dalam diskusi tersebut, Istia menyoroti pentingnya pendekatan yang terarah bagi para entrepreneur, khususnya founder muda, dalam mengadopsi teknologi untuk mengembangkan bisnis.

Menurutnya, penggunaan AI sebaiknya dimulai dari persoalan nyata yang ingin diselesaikan, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang berkembang. “Teknologi seharusnya membantu bisnis bergerak lebih terarah, bukan sekadar membuat kita terlihat lebih modern. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan pasar, memilih solusi yang tepat, dan memastikan tim mampu menindaklanjuti peluang yang ada,” ujar Istia.

Ia menyarankan pelaku usaha untuk menguji teknologi dalam skala kecil terlebih dahulu. Setelah mengevaluasi hasilnya, barulah penggunaan teknologi tersebut dikembangkan lebih luas apabila terbukti memberikan manfaat nyata bagi efisiensi atau pertumbuhan bisnis.

Strategi Ekspansi Global

Pendekatan serupa juga dinilai relevan ketika bisnis ingin memasuki pasar internasional. Istia menekankan bahwa founder perlu memahami kebutuhan spesifik calon pembeli di luar negeri, menguji relevansi produk, serta memastikan kapasitas operasional bisnis sebelum melakukan ekspansi besar-besaran.

Selain aspek teknologi, Istia menggarisbawahi peran penting komunitas dan mentorship. Melalui inisiatif seperti JIB (JCI in Business), para pengusaha dapat mengembangkan wawasan bisnis dan memperluas jejaring untuk mendorong kolaborasi.

Menurutnya, keberhasilan networking tidak boleh hanya diukur dari jumlah koneksi yang terbentuk, tetapi dari sejauh mana tindak lanjut dan peluang kolaborasi nyata yang dapat dikembangkan setelah pertemuan tersebut.

Optimalisasi Platform Digital

Diskusi ini juga menyoroti peran strategis platform perdagangan digital B2B, seperti Alibaba.com, dalam membuka akses langsung kepada calon pembeli internasional. Namun, Istia mengingatkan bahwa akses digital tersebut harus diimbangi dengan penyediaan informasi produk yang akurat, komunikasi profesional, dan kesiapan untuk memenuhi komitmen bisnis.

Sebagai langkah awal menuju pasar global, Istia menyarankan para founder untuk tidak terburu-buru melakukan ekspansi masif. Langkah kecil yang konsisten, seperti mempelajari satu pasar spesifik, memperbaiki satu proses bisnis internal, atau membangun satu kolaborasi yang relevan, seringkali lebih efektif.

Pandangan ini menegaskan bahwa daya saing bisnis di era digital tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi pada kemampuan entrepreneur untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengeksekusi setiap peluang secara konsisten. (I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *