
PRESIDEN Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan negaranya tidak menerima peringatan dini dari negara-negara mitra terkait gelombang kedua serangan rudal balistik Rusia. Serangan yang menyasar infrastruktur sipil dan fasilitas energi krusial di Kyiv tersebut menewaskan warga serta merusak Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) No. 4 pascamatahari terbenam.
Ukraina kembali dihantam serangkaian rudal balistik pada Selasa malam. Selain merusak pembangkit listrik utama di ibu kota, serangan tersebut juga menghantam gedung apartemen bertingkat tinggi. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi satu orang tewas dan 13 lainnya luka-luka dalam insiden kebakaran apartemen yang memaksa evakuasi warga.
“Sekali lagi, tidak ada peringatan dini dari mitra kami. Target utamanya adalah infrastruktur energi, khususnya PLTU No. 4,” tulis Zelensky melalui aplikasi Telegram.
Zelensky menekankan bahwa pasokan intelijen dari sekutu Barat sangat vital untuk menyelamatkan nyawa warga sipil dari ancaman rudal balistik. Meskipun Komandan Militer Ukraina menyatakan tidak membutuhkan intelijen Amerika Serikat (AS) untuk menentukan target di wilayah Rusia, mereka mengakui bahwa data AS sangat penting guna mendeteksi peluncuran rudal balistik dan lepas landasnya pesawat pembom jarak jauh Rusia.
Ketiadaan peringatan ini terjadi di tengah kabar ketegangan antara Washington dan Kyiv. Pejabat AS sebelumnya dilaporkan mengancam akan menghentikan penyampaian data intelijen. Namun, Presiden AS Donald Trump membantah kabar penhentian tersebut.
“Kami membantu mereka, dan kami berbagi intelijen. Kami ingin perang berakhir, jadi kami bekerja sama dengan mereka dan Rusia untuk mengakhiri perang,” ujar Trump kepada wartawan.
Sebelumnya, Trump sempat mengklaim adanya kesepakatan “gencatan senjata energi” antara Moskow dan Kyiv. Namun, Zelensky menyebut klaim tersebut sebagai hal baru baginya. Pemimpin Ukraina itu menegaskan militer tidak menyerang kilang minyak Rusia selama dua hari setelah pengumuman Trump, tetapi Rusia justru mengabaikannya dan terus membombardir infrastruktur energi Ukraina.
“Rusia tidak mengindahkan Presiden… pihak Rusia mengirimkan sinyal yang sangat jelas bahwa mereka tidak berniat menahan diri dari serangan,” tegas Zelensky.
Ia menambahkan, Ukraina bersedia menghentikan serangan ke kilang minyak Rusia secara timbal balik dengan jaminan nyata bahwa Moskow juga menghentikan gempuran terhadap fasilitas energi Ukraina. “Sangat tidak adil bahwa mereka menghancurkan infrastruktur energi kami sementara Ukraina tidak menerima peringatan tentang peluncuran rudal balistik. Sangat penting bagi dunia untuk tidak berdiam diri mengenai hal ini,” lanjut Zelensky.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyatakan di Warsawa bahwa kerja sama dengan AS tetap berjalan. Menurutnya, ketiadaan peringatan dini pada serangan di Kyiv disebabkan oleh jenis persenjataan khusus yang digunakan oleh Rusia.
Selain di Kyiv, serangan Rusia juga menghantam gedung pemukiman di Kharkiv pada hari Senin, membunuh empat orang dan melukai 41 lainnya. Sementara itu di lepas pantai Bulgaria, serangan korvet atau insiden kapal karam akibat serangan drone menyebabkan 11 pelaut hilang dari dua kapal kargo yang dihantam. Perdana Menteri Bulgaria Rumen Radev menilai dampak insiden tersebut menguntungkan Federasi Rusia.
Gempuran sistematis Rusia terhadap jaringan listrik telah memicu pemadaman massal di Kyiv jelang musim dingin. Menghadapi ancaman ini, Zelensky memperingatkan warganya akan potensi serangan balistik lanjutan. “Dukungan langsung atau tidak langsung untuk Rusia, penundaan bantuan ke Ukraina, dan mempersulit perlindungan nyawa dari serangan balistik, ini adalah hal yang pasti tidak akan berhasil membawa perdamaian,” pungkasnya.(The Guardian/Z-2)
