Survei Kaspersky: 92 Persen UMKM Indonesia Terpapar Insiden Siber Setahun Terakhir
Ilustrasi(magnific)

KASPERSKY mengeluarkan peringatan serius bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan temuan survei global terbaru dari Pusat Penelitian Internal Kaspersky, anggapan bahwa bisnis skala kecil luput dari radar penjahat siber kini terbukti tidak relevan. Data menunjukkan bahwa penyerang kini menggunakan metode canggih yang sama terhadap bisnis kecil maupun perusahaan besar.

Survei yang melibatkan spesialis keamanan TI di 18 negara ini mengungkapkan fakta mengejutkan: hanya 13% perusahaan dengan kurang dari 500 karyawan di Asia Pasifik yang berhasil terhindar dari insiden siber selama setahun terakhir. Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat kerentanan yang sangat tinggi.

Data Insiden Siber di Asia Pasifik

Berikut adalah tingkat insiden keamanan siber di beberapa negara utama kawasan Asia Pasifik berdasarkan laporan Kaspersky:










Negara Tingkat Insiden Siber (%)
Vietnam 97%
Malaysia 95%
Indonesia 92%
India 87%
Thailand 82%
China 67%

Jenis Serangan dan Faktor Risiko

Rata-rata organisasi di Asia Pasifik mengalami tiga jenis insiden keamanan berbeda dalam setahun terakhir. Bagi sektor UMKM, tiga ancaman utama yang paling sering muncul adalah eksploitasi kerentanan perangkat lunak (20%), phishing (19%), dan serangan malware massal (18%). Meskipun eksploitasi zero-day berada di peringkat bawah, serangan berbahaya ini tetap menghantam 6% organisasi.

Tingginya angka serangan ini dipicu oleh beberapa faktor internal organisasi. Responden menyoroti lima masalah utama yang meningkatkan risiko keberhasilan serangan:

  • Kurangnya kesadaran keamanan di kalangan karyawan non-TI (26%)
  • Kurangnya keahlian staf keamanan TI (24%)
  • Penggunaan perangkat lunak atau perangkat keras usang (23%)
  • Kurangnya penilaian risiko secara berkala (22%)
  • Tidak adanya solusi keamanan yang memadai (22%)

Respons Strategis dan Anggaran Keamanan

Menghadapi ancaman yang kian nyata, 78% UMKM di Asia Pasifik telah menambah anggaran keamanan siber mereka tahun ini. Sebanyak 48% mengalokasikan dana untuk memperluas tim TI, sementara 32% lainnya berinvestasi pada solusi canggih seperti XDR (Extended Detection and Response), NDR, dan SIEM.

Adrian Hia, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky, menegaskan bahwa UMKM kini menjadi sasaran utama pelaku ancaman modern.

“Tujuan ke depan bukanlah membebani tim dengan perangkat yang terlalu rumit, melainkan mengamankan sistem vital, memberdayakan karyawan non-TI, dan menerapkan solusi keamanan terkelola yang dapat menyesuaikan skalanya,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ilya Markelov dari Kaspersky menambahkan bahwa solusi modern harus efisien. “Vendor sebaiknya berfokus pada penyederhanaan sistem agar perlindungan canggih mudah diadopsi tanpa membebani anggaran,” jelasnya.

Rekomendasi Kaspersky untuk UMKM:

  1. Perketat Proses Internal: Terapkan aturan akses ketat, cabut hak akses karyawan yang berhenti, dan lakukan pencadangan data otomatis secara harian.
  2. Edukasi SDM: Lakukan pelatihan rutin untuk mendeteksi ancaman seperti deepfake dan phishing melalui platform seperti Kaspersky Automated Security Awareness Platform.
  3. Teknologi yang Tepat: Pilih solusi sesuai skala bisnis. Gunakan Kaspersky Small Office Security untuk usaha mikro, atau Kaspersky Next Optimum/MXDR untuk perusahaan dengan kebutuhan deteksi respons yang lebih kompleks.

Maximiliano Allo, Direktur di Custom IT, juga mengingatkan pentingnya perlindungan kredensial. Dengan meningkatnya penggunaan AI oleh penyerang, edukasi bagi pengguna non-teknis menjadi benteng pertahanan yang sangat krusial untuk mencegah pencurian data login yang dapat mengganggu operasional bisnis. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *