62 SPPG sudah Terapkan Metode MBG Prasmanan
SPPG terapkan metode MBG prasmanan.(Antara)

Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menerapkan layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan metode prasmanan di lingkungan sekolah. Langkah ini diambil sebagai upaya meningkatkan kualitas pengalaman makan peserta didik sekaligus mendorong edukasi kebiasaan makan dan pembentukan karakter.

Hingga saat ini, sebanyak 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah Indonesia telah mengikuti skema MBG prasmanan. Pelaksanaannya mencakup sejumlah daerah strategis, mulai dari Merauke, Pulau Madura, Jawa, hingga Riau.

Kepala BGN Sudaryono, menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan piloting MBG prasmanan selama dua minggu. Jika tahap uji coba ini berjalan tanpa kendala signifikan, BGN memproyeksikan ekspansi besar-besaran hingga akhir tahun 2026.

“Kalau tidak terjadi masalah yang begitu signifikan, kami rencananya sampai dengan akhir tahun menargetkan paling tidak minimal 1.000 sampai dengan 5.000 dapur sudah bisa melaksanakan MBG dengan cara prasmanan,” ujar Sudaryono dalam keterangannya, Rabu (14/10).

Keunggulan Metode Prasmanan

Pria yang akrab disapa Mas Dar itu menilai metode prasmanan memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan sistem distribusi lainnya. Salah satu indikator keberhasilannya terlihat dari tingkat konsumsi makanan yang relatif tinggi, di mana sajian cenderung habis dikonsumsi oleh siswa.

“Dari hasil MBG prasmanan itu, tingkat kehabisannya relatif tinggi. Jadi habis. Kalau masih ada sisa, siswa yang masih ingin nambah bisa nambah. Kemudian makanannya itu hangat-hangat dibawa ke kelas, jadi lebih segar, lebih hangat, lebih enak,” jelasnya.

 

Selain aspek nutrisi dan penyajian, metode ini juga membuka ruang bagi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pelayanan melalui sistem piket yang dikelola sekolah. Mas Dar menekankan bahwa keterlibatan siswa bukan sebagai tenaga kerja pengganti, melainkan bagian dari proses pembelajaran.

Melalui sistem ini, siswa diajarkan mengenai tanggung jawab, kedisiplinan, kesabaran saat mengantre, hingga kepedulian terhadap sesama teman. “Ini bagian dari edukasi bagaimana siswa itu ikut melayani temannya. Di banyak negara, siswa secara piket ikut terlibat. Di situ ada mengantre, ada melayani, ada belajar sabar. Ini bagian dari pendidikan,” ungkapnya.

Tantangan Implementasi: Keberhasilan MBG prasmanan sangat bergantung pada kesiapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia layanan dan pihak sekolah sebagai lokasi pelaksanaan.

Mas Dar menegaskan bahwa tantangan utama terletak pada pelatihan bagi pengelola dapur dan pihak sekolah. BGN akan memprioritaskan kolaborasi dengan unit-unit yang memiliki kesiapan dan kerelaan untuk menjalankan sistem baru ini demi mendukung pembentukan kebiasaan positif siswa di sekolah.

“Tantangannya adalah yang harus dilatih adalah dapurnya dan yang harus dilatih adalah sekolahnya. Kami akan memulai prasmanan ini dari dapur yang bisa dan mau, serta sekolah yang mau, bisa, dan punya kerelaan untuk dibantu,” pungkasnya. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *