
Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengungkapkan bahwa peluang pengembangan ekonomi syariah masih terbuka lebar. Hal ini seiring dengan meningkatnya potensi pasar halal global dan pertumbuhan industri keuangan syariah yang signifikan.
Pemerintah berkomitmen terus memperkuat industri halal, memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memperluas akses pasar internasional. Langkah strategis ini diambil untuk mendorong kontribusi ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional secara berkelanjutan.
Dalam acara The Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Dradjad memaparkan data proyeksi belanja masyarakat muslim global yang diperkirakan mencapai hampir US$3,6 triliun pada 2029. Sementara itu, aset keuangan syariah global diprediksi menyentuh angka US$9,72 triliun.
Di level domestik, aset keuangan syariah Indonesia telah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan nilai Rp3.131 triliun. Angka ini mewakili pangsa sebesar 11,36% dari total aset keuangan nasional, menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia berdasarkan nilai aset keuangan syariah.
“Peluang ekonomi syariah sangat besar. Karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangannya agar dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Dradjad.
Lima Strategi Utama Pengembangan
Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027 dan menuju 8% dalam jangka menengah. Guna mendukung target tersebut, ditetapkan lima arah strategi pengembangan ekonomi syariah:
- Penguatan industri halal dan UMKM halal.
- Peningkatan ekspor dan kerja sama internasional.
- Penguatan ekosistem halal secara menyeluruh.
- Pengembangan keuangan syariah.
- Penguatan dana sosial syariah.
Dradjad menekankan bahwa pemberdayaan UMKM, termasuk usaha ultra mikro yang dijalankan perempuan, menjadi prioritas utama. Pemerintah mendorong pengembangan ekosistem halal mulai dari industri skala besar hingga pelaku usaha di tingkat akar rumput.
Kontribusi rantai nilai halal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat mencapai hampir 25%, atau sekitar Rp1.524 triliun pada kuartal IV 2025. Selain itu, ekspor produk halal tumbuh 23% sepanjang 2025 menjadi US$63,4 miliar.
Perluasan Akses Pasar Internasional
Untuk memperkuat daya saing, pemerintah mempercepat perundingan perdagangan dan memperkuat pengakuan bersama sertifikasi halal (mutual recognition agreement). Saat ini, Indonesia telah menandatangani 12 perjanjian yang dalam proses ratifikasi dan 11 perjanjian lainnya masih dalam tahap perundingan.
“Perjanjian perdagangan membuka akses pasar ke pasar halal global,” kata Dradjad. Kerja sama ini mencakup negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) seperti Uni Emirat Arab, serta kawasan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Turki, Pakistan, hingga Tunisia.
Inklusivitas dan Instrumen Hijau
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menambahkan bahwa Indonesia tidak boleh berpuas diri meski menempati peringkat keempat global dalam laporan State of the Global Islamic Economy 2025–2026. Ia menekankan nilai universal ekonomi syariah yang mencakup inklusivitas, keberlanjutan, dan keadilan.
Salah satu instrumen yang menonjol adalah Green Sukuk. Sejak 2018, akumulasi penerbitan Green Sukuk Indonesia mencapai US$7,7 miliar. Di pasar domestik, nilainya telah mencapai Rp108,9 triliun.
“Banyak investor dari luar negara muslim yang membeli produk ini karena melihatnya sebagai instrumen yang berkelanjutan. Produk keuangan syariah juga relatif stabil karena memiliki aset yang mendasarinya,” jelas Destry.
Ke depan, pengembangan sektor ini akan diakselerasi melalui sinergi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan efisiensi serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.
