Harga Minyak Mentah Indonesia Tembus US$112,81, Wamenkeu Pastikan BBM Subsidi tak Naik
Ilustrasi(Antara)

WAKIL Menteri Keuangan Juda Agung memastikan tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tahun ini meskipun harga minyak mentah sedang bergejolak. Sebagai informasi, rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian crude price (ICP) September 2026 menyentuh US$112,81 per barel.

“Gak ada (kenaikan harga BBM subsidi),” ujar Juda kepada awak media di Jakarta, Selasa (13/10).

Wamenkeu juga mengatakan harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan pada tahun depan. Menurutnya, Kementerian Keuangan lebih memilih melakukan refocusing anggaran.

“Gak ada (kenaikan tahun depan). Jadi (anggaran) lebih difokuskan, lebih ditargetkan,” kata Juda. Ia juga memastikan kenaikan harga minyak mentah dunia tidak memperlebar defisit APBN di atas 3% dari produk domestik bruto (PDB).

Sebelumnya, pemerintah menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau ICP September 2026 sebesar US$112,81 per barel, naik US$23,38 dibandingkan Agustus 2026 yang berada di level US$89,43 per barel.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026.

“Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik menjadi US$112,81 per barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan (supply disruption risk). Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional,” papar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman dalam keterangan di Jakarta, Senin (12/10).

Menurut Laode, eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia.

“Ekspor minyak mentah melalui rute vital tersebut sempat mengalami penurunan hingga 28% dibandingkan bulan Juli. Kondisi ini diperkuat oleh serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut, termasuk penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi berkapasitas 7 juta barel per hari akibat serangan drone sebagai langkah pencegahan,” ujarnya.

Selain itu, penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan lanjutan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah turut memperketat pasokan minyak mentah global.

Untuk Oktober 2026, ICP diproyeksikan masih berada di level tinggi, namun mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel.

Laode menegaskan, pemerintah bersama pihak terkait akan terus mencermati pergerakan harga minyak dunia untuk mengambil langkah strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional.

“Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas,” ujarnya.

ICP menjadi acuan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu migas dan asumsi makro APBN. Dengan pemantauan yang ketat dan penetapan harga yang transparan, pemerintah berupaya menjaga stabilitas sektor energi di tengah ketidakpastian pasar global. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *