Kanker Hati Ternyata Bisa Diobati Tanpa Operasi dengan Terapi HIFU, Ini Penjelasannya
Ilustrasi hati manusia.(Dok. Magnific)

KANKER hati tidak selalu harus ditangani melalui operasi terbuka. Salah satu metode yang dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu ialah High-Intensity Focused Ultrasound (HIFU), terapi yang menggunakan gelombang ultrasonik berintensitas tinggi untuk merusak jaringan tumor tanpa sayatan.

Terapi ini menjadi salah satu pilihan penanganan kanker hati, terutama hepatocellular carcinoma (HCC), jenis kanker hati primer yang paling umum. Namun, tidak semua pasien dapat menjalani HIFU karena kelayakannya bergantung pada ukuran dan lokasi tumor, kondisi hati, serta hasil pemeriksaan medis.

Kanker hati kerap sulit dikenali pada tahap awal karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Penyakit ini juga berkaitan dengan kondisi hati kronis, termasuk sirosis. Karena itu, pemeriksaan dan penentuan penanganan oleh tim medis menjadi penting, khususnya bagi pasien yang telah mengalami gangguan fungsi hati.

Bagaimana HIFU Menghancurkan Tumor?

HIFU merupakan prosedur minimal invasif yang memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk memusatkan energi pada jaringan tumor. Energi yang terkonsentrasi meningkatkan suhu di area sasaran hingga dapat merusak sel kanker melalui proses yang disebut ablasi termal.

Dalam prosedur ini, alat memancarkan gelombang ultrasonik dari luar tubuh menuju lokasi tumor. Energi diarahkan ke area sasaran untuk menghasilkan panas yang dapat mencapai lebih dari 60 derajat Celsius, sehingga merusak jaringan tumor.

Berbeda dari operasi terbuka, terapi HIFU tidak memerlukan sayatan untuk menghancurkan tumor. Energi yang difokuskan pada area tertentu juga ditujukan untuk membatasi dampak terhadap jaringan di sekitarnya. Meski demikian, risiko kerusakan jaringan sehat tetap perlu diperhitungkan dalam perencanaan tindakan.

Bagi pasien kanker hati yang juga mengalami sirosis, pertimbangan terhadap fungsi hati menjadi sangat penting. Kondisi tersebut dapat membatasi pilihan pengobatan sehingga dokter perlu mengevaluasi manfaat dan risiko setiap metode sebelum menentukan terapi.

Siapa yang Dapat Menjalani Terapi HIFU?

HIFU dapat dipertimbangkan untuk pasien dengan kanker hati primer jenis HCC dalam kondisi tertentu. Pemeriksaan pencitraan, seperti ultrasonografi (USG), membantu dokter menilai lokasi dan karakteristik tumor sebelum tindakan dilakukan.

Kejelasan visualisasi tumor menjadi salah satu faktor penting karena prosedur ini membutuhkan pengarahan energi yang tepat. Lokasi tumor, ukuran, kedekatannya dengan organ lain, serta kondisi kesehatan pasien turut menentukan apakah HIFU sesuai digunakan.

Pasien dengan sirosis, termasuk yang mengalami gangguan fungsi hati berat, juga memerlukan evaluasi khusus. Kondisi seperti penumpukan cairan di perut atau asites tidak otomatis membuat pasien memenuhi syarat untuk menjalani terapi ini.

Karena itu, pasien tidak dapat menentukan sendiri kesesuaian HIFU hanya berdasarkan diagnosis kanker hati atau kondisi sirosis. Dokter perlu menilai hasil pemeriksaan secara menyeluruh dan mempertimbangkan pilihan terapi lain yang tersedia.

Studi Klinis Menunjukkan Potensi HIFU

Sejumlah penelitian melaporkan hasil yang menjanjikan pada pasien kanker hati dengan sirosis. Salah satu penelitian melibatkan 55 pasien dengan tumor hati berukuran rata-rata sekitar 8 sentimeter. Dalam penelitian tersebut, tidak dilaporkan adanya komplikasi berat selama maupun setelah prosedur.

Pada pasien yang menjalani evaluasi lanjutan, sekitar 69,2% kasus menunjukkan penghancuran tumor secara lengkap atau complete ablation. Penelitian yang sama mencatat angka kelangsungan hidup sekitar 61,5% pada 12 bulan dan 35,3% pada 18 bulan setelah terapi.

Angka tersebut merupakan hasil pada kelompok pasien yang diteliti, bukan gambaran yang dapat langsung diterapkan kepada seluruh pasien kanker hati.

Studi lain juga menunjukkan potensi kombinasi HIFU dengan Transarterial Chemoembolization (TACE), yakni prosedur yang menyalurkan obat kemoterapi sekaligus membatasi aliran darah ke tumor. Kombinasi tersebut dilaporkan memberikan hasil kelangsungan hidup yang lebih baik dibandingkan TACE saja pada pasien kanker hati stadium lanjut.

Meski demikian, hasil penelitian tersebut perlu dipahami sesuai karakteristik pasien, rancangan penelitian, dan masa pemantauannya. HIFU bukan jaminan kesembuhan dan tidak serta-merta menggantikan operasi, ablasi lain, transplantasi hati, atau terapi kanker yang direkomendasikan dokter.

(Mandaya Hospital Group/H-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *