Karyawan OpenAI Ditangkap FBI Usai Ketahuan Pasang Alat Perekam Rahasia di Ruang Rapat Eksekutif
Warga negara Arab Saudi dijerat pasal penyadapan usai menanam alat perekam rahasia di kantor OpenAI California. Pelaku terancam 5 tahun penjara.(US Department of Justice)

SEORANG warga negara Arab Saudi dijerat dakwaan pidana federasi setelah diduga menanam alat perekam secara sembunyi-sembunyi di salah satu kantor OpenAI di California, Amerika Serikat. Jaksa penuntut umum mengumumkan bahwa tersangka dituduh menggunakan atau berupaya menggunakan perangkat elektronik untuk mengintersepsi komunikasi lisan.

Tersangka diidentifikasi sebagai Abdulrahman Alfozan, yang bekerja sebagai insinyur di perusahaan pengembang ChatGPT tersebut sejak Juli 2025. Pihak OpenAI menemukan perangkat penyadap canggih tersebut tersembunyi di kantor mereka di San Francisco dan langsung melaporkannya ke Biro Investigasi Federal (FBI).

Dalam keterangannya, OpenAI menegaskan tidak ada indikasi bahwa kode sumber (source code), bobot model (model weights), maupun data pelanggan diakses atau diambil secara tidak sah dalam insiden ini. Pihak perusahaan juga mengonfirmasi bahwa Alfozan telah dipecat dari pekerjaannya.

Berdasarkan dokumen dakwaan, perangkat tersebut dibungkus dengan kertas toilet dan dimasukkan ke dalam port USB di bagian belakang televisi yang berada di dalam ruang rapat eksekutif. Alat perekam dalam kondisi terenkripsi itu pertama kali ditemukan oleh karyawan OpenAI pada 30 September, tepat dua hari setelah dipasang oleh pelaku.

Direktur FBI Kash Patel menyatakan insinyur tersebut diduga sengaja menyembunyikan alat perekam guna mencuri informasi sensitif perusahaan.

“Alfozan diduga menyembunyikan perangkat perekam rahasia di dalam ruang rapat eksekutif tempat kerjanya untuk menangkap komunikasi sensitif secara diam-diam,” kata Direktur FBI Kash Patel dalam sebuah pernyataan. Patel menambahkan bahwa tujuan dari aksi tersebut adalah untuk mengambil informasi terkait produk kecerdasan buatan (AI) milik OpenAI.

Menariknya, OpenAI memanfaatkan model AI buatan mereka sendiri untuk melacak dan mengidentifikasi asal-usul perangkat tersebut hingga akhirnya mengarah kepada Alfozan.

Di sisi lain, temuan FBI menunjukkan bahwa tersangka sempat menggunakan “alat produktivitas” dan “chatbot” untuk meriset lokasi-lokasi sensitif di kantor OpenAI serta cara memasang peralatan audio secara tersembunyi.

Beberapa riwayat pencarian prompt chatbot yang dilakukannya mencakup instruksi tentang “membuat, mengcustom, memasang, merekam audio, menguji, menyamarkan, dan mengakses perangkat secara jarak jauh.” Ia juga dituduh bertanya kepada chatbot mengenai cara “membuat perekam audio secara terus-menerus,” “mengatur konektivitas Wi-Fi,” “meningkatkan kualitas audio dan mendengarkan secara langsung,” serta “mengenkripsi kartu SD.”

Pada 5 Oktober, Alfozan terekam kamera pengawas (CCTV) kembali ke ruang rapat tersebut untuk memeriksa perangkat yang dipasangnya. Pada hari yang sama, ia meninggalkan sebuah tas tanpa pengawasan di area gedung yang berbeda. Tim keamanan OpenAI yang memeriksa tas tersebut menemukan dompet, kartu identitas Alfozan, serta perangkat perekam lain yang serupa dengan yang ditemukan di ruang rapat.

Alfozan telah dihadapkan ke pengadilan pada Selasa lalu, meski belum dipastikan apakah ia telah didampingi oleh kuasa hukum. Jika terbukti bersalah atas perbuatannya, Alfozan terancam hukuman penjara hingga lima tahun dan denda sebesar US$250.000. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *