
MISI migrasi Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan setidaknya 139 migran, termasuk 15 anak-anak, tewas setelah sebuah kapal tenggelam di lepas pantai Djibouti. Selain korban tewas, puluhan orang lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.
Kapal yang mengangkut sekitar 305 orang tersebut sedang dalam perjalanan dari Djibouti menuju Yaman ketika terbalik di dekat kota pelabuhan Obock pada Kamis malam. Pihak IOM mengonfirmasi bahwa sebanyak 82 orang berhasil diselamatkan dari tragedi tersebut.
Kepala Misi IOM di Djibouti, Alexandre Coissac, menyebut insiden memilukan ini sebagai pengingat nyata akan besarnya bahaya yang harus dihadapi para migran saat berjuang mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain.
IOM merevisi jumlah korban tewas yang sebelumnya dicatat sebanyak 109 orang pada hari Minggu, setelah tim di lapangan kembali menemukan 30 jenazah lainnya.
“Ini adalah hilangnya nyawa yang sangat memilukan,” ujar Coissac. “Doa dan simpati kami menyertai para penyintas serta keluarga yang telah kehilangan orang-orang tercinta atau masih belum mendapat kabar dari kerabat mereka.”
Otoritas lokal saat ini tengah mengurus pemakaman bagi para korban meninggal dunia. Sementara itu, seluruh penyintas yang teridentifikasi berwarganegaraan Ethiopia telah mendapatkan penanganan medis yang memadai.
IOM mencatat bahwa pihaknya memberikan bantuan langsung kepada 64 penyintas di pusat penanganan yang berlokasi di Obock. Bantuan tersebut mencakup perawatan kesehatan serta dukungan untuk memulihkan komunikasi dengan keluarga mereka. Pihak lembaga PBB ini juga terus bekerja sama secara erat dengan pemerintah setempat guna membantu para migran serta mencegah jatuhnya korban jiwa di laut maupun darat.
Jalur Perlintasan Berbahaya demi Mengubah Nasib
Setiap tahunnya, puluhan ribu migran dari wilayah Tanduk Afrika nekat menempuh perjalanan yang sangat berbahaya dengan harapan bisa mencapai negara-negara Teluk demi mendapatkan keamanan serta pekerjaan.
Meskipun Yaman sendiri masih terperangkap dalam perang saudara berkepanjangan selama lebih dari satu dekade, para migran tetap nekat menyeberangi Selat Bab el-Mandeb menuju negara tersebut. Dorongan kemiskinan, situasi keamanan yang tidak menentu, serta dampak perubahan iklim yang kian memburuk menjadi faktor utama di balik keputusan nekat ini.
Data dari Displacement Tracking Matrix milik IOM mencatat adanya lebih dari 20.000 pergerakan migran dari Ethiopia menuju Djibouti sejak 10 September lalu.
Tragedi kapal tenggelam ini menambah panjang daftar kelam di rute perlintasan tersebut. Berdasarkan statistik IOM, sepanjang tahun 2025 terdapat lebih dari 900 migran yang tewas atau hilang saat menempuh rute yang sama, seiring dengan melonjaknya jumlah orang yang mencoba melakukan perlintasan sebesar 18 persen.
Sebelumnya pada Maret 2026, insiden serupa juga pernah terjadi dan mengakibatkan sembilan orang tewas serta 45 orang lainnya hilang. (BBC/Z-2)
