
Association of Chartered Certified Accountants (ACCA) Indonesia menyelenggarakan ACCA Indonesia Industry Talk sekaligus penyerahan sertifikat kepada mahasiswa penerima Global Financial Literacy Program 2026. Acara berlangsung di kantor KPMG Indonesia, Mori Tower, Jakarta.
Global Financial Literacy Program 2026 diikuti lebih dari 300 mahasiswa dari puluhan universitas dan politeknik di seluruh Indonesia. Peserta berasal dari Swiss German University, Trisakti School of Management, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Airlangga, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Diponegoro, Universitas Indonesia, Universitas Katolik Widya Mandala, Universitas Kristen Krida Wacana, Universitas Maranatha, Universitas Pasundan, Universitas Pelita Harapan Jakarta, Universitas Pelita Harapan Medan, Universitas Prasetiya Mulya, Politeknik Negeri Samarinda, Universitas Atma Jaya Jakarta, dan Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie.
Country Manager & Chief Representative ACCA Indonesia Julia Simatupang mengatakan literasi keuangan merupakan fondasi bagi setiap keputusan ekonomi yang baik. Akuntan memiliki peran strategis untuk menjembatani pemahaman tersebut kepada masyarakat luas.
“Kami ingin memastikan generasi akuntan masa depan tidak hanya mahir menyusun laporan keuangan, tetapi juga mampu menjadi penggerak literasi keuangan di lingkungan mereka masing-masing. Pencapaian mahasiswa dari seluruh Indonesia yang menyelesaikan program ini adalah bukti nyata dari komitmen tersebut,” kata Julia.
Julia menegaskan, akuntan memiliki peran strategis sebagai financial literacy champion yang tidak hanya menyajikan informasi keuangan, tetapi juga membantu masyarakat memahami informasi tersebut dan mengambil keputusan yang lebih baik.
Acara tersebut juga menghadirkan sesi diskusi bertajuk “The Accountant as a Financial Literacy Champion” yang menyajikan perspektif dari kalangan jasa profesional, industri, dan pendidikan tinggi.
Partner, Audit & Assurance KPMG Indonesia Kusumaningsih Angkawidjaja menyatakan profesi akuntan berperan dalam meningkatkan literasi keuangan sekaligus menjaga kepercayaan publik.
“Caranya dengan memberikan informasi yang relevan, harus andal, dan juga transparan. Karena informasi yang digunakan untuk mengambil suatu keputusan penting,” kata Kusumaningsih.
Sementara itu, Head of Finance & Compliance Henkel Indonesia Setiadi Sutanto menjelaskan bahwa akuntan memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan di perusahaan.
“Literasi finansial itu sangat penting untuk semua orang, semua divisi. Karena ini sangat berhubungan sekali dengan kepentingan perusahaan. Kami biasanya melakukan pelatihan atau sesi berbagi dari divisi keuangan untuk semua tim, termasuk tim bisnis,” ujar Setiadi.
Adapun Head of Accounting Program UNIKA Atma Jaya Loh Wenny Setiawati menegaskan bahwa seorang akuntan profesional membutuhkan kemampuan berpikir kritis. Di tengah banyaknya sumber informasi di media sosial, akuntan juga harus mampu membedakan informasi yang valid dan tidak valid, serta menilai relevansinya dengan situasi terkini.
Persyaratan lainnya adalah literasi digital. “Bukan hanya bisa menggunakan peranti lunak akuntansi, tetapi juga mampu membaca data atau bagaimana mengolahnya sehingga informasi keuangan itu bisa kita sampaikan ke masyarakat. Tak kalah pentingnya, etika. Dengan maraknya perkembangan AI, etika dan integritas profesional juga dibutuhkan. Jadi, seorang akuntan juga harus mampu membangun kepercayaan publik.”
Ketiga pembicara sepakat bahwa akuntan masa kini dituntut tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga menjadi komunikator yang mampu menjembatani kesenjangan pemahaman keuangan di tengah derasnya arus informasi digital.
Global Financial Literacy Program 2026 didukung oleh perusahaan manufaktur asal Jerman, Henkel Indonesia. Sementara itu, ACCA merupakan badan profesi akuntansi global yang beroperasi di lebih dari 180 negara.
Meraih sertifikasi ACCA menjadi salah satu jalur untuk membangun karier di perusahaan Big Four, yang menjadi salah satu tujuan karier mahasiswa keuangan dan jurusan terkait lainnya. Keempat perusahaan tersebut adalah Deloitte (Deloitte Touche Tohmatsu Limited), PwC (PricewaterhouseCoopers), EY (Ernst & Young), dan KPMG (Klynveld Peat Marwick Goerdeler). (X-6)
