Google Buka Akses SynthID Detector, Alat Gratis untuk Mengecek Konten Buatan AI
Gambar ini awalnya adalah foto film hitam putih, tetapi diwarnai menggunakan Google Gemini, yang menambahkan tanda air SynthID pada hasilnya. Alat tersebut kemudian dapat mendeteksinya.(Mitchell Clark)

GOOGLE menyediakan SynthID Detector, alat yang dapat digunakan masyarakat untuk memeriksa apakah gambar, video, atau audio memiliki tanda air digital SynthID. Teknologi ini dirancang untuk membantu mengidentifikasi konten yang dibuat menggunakan sejumlah model kecerdasan buatan (AI).

Berbeda dari alat pendeteksi AI pada umumnya, SynthID Detector tidak menganalisis konten untuk menentukan apakah suatu gambar dibuat oleh AI. Alat ini secara khusus mencari tanda air SynthID yang disematkan pada konten hasil generasi AI dari model yang mendukung teknologi tersebut.

Pengguna cukup mengunggah gambar, video, atau klip audio untuk diperiksa. Google menyebut sejumlah perusahaan, termasuk Nvidia, OpenAI, dan Kakao, menggunakan standar SynthID pada produk AI mereka. Apple juga berencana menerapkan teknologi tersebut pada fitur manipulasi foto berbasis AI pada akhir tahun ini.

Menggunakan Tanda Air yang Tidak Terlihat

SynthID dirancang untuk menyematkan tanda air digital yang tidak terlihat oleh mata manusia. Tanda ini berbeda dari tulisan atau logo yang ditempelkan pada gambar karena tidak mengubah tampilan visual konten.

Teknologi tersebut juga dirancang agar tanda air tetap dapat dikenali setelah konten mengalami perubahan, seperti pemotongan gambar, penyesuaian warna, atau kompresi. Dengan demikian, tanda air diharapkan tetap berguna meskipun konten diunggah ulang melalui platform digital.

Namun, kemampuan SynthID Detector memiliki batasan. Alat ini hanya dapat mengidentifikasi tanda air dari konten yang menggunakan teknologi tersebut. Jika sebuah gambar dibuat menggunakan model AI yang tidak mendukung SynthID, alat ini belum tentu dapat mengenalinya.

Artinya, hasil pemeriksaan yang tidak menemukan tanda air bukan berarti gambar tersebut pasti dibuat oleh manusia. Gambar itu bisa saja dihasilkan AI yang tidak menggunakan SynthID atau telah melalui proses yang membuat tanda airnya tidak lagi dapat dikenali.

Pengguna Harus Masuk ke Akun

Untuk menggunakan SynthID Detector, pengguna diwajibkan masuk menggunakan akun Google, Apple, atau OpenAI. Persyaratan ini menjadi salah satu batasan akses karena pengguna tidak dapat langsung memeriksa konten tanpa melalui proses masuk akun.

Selain itu, hasil pemeriksaan yang diberikan juga relatif sederhana. Alat ini berfokus pada keberadaan tanda air SynthID dan tidak menyediakan informasi lengkap mengenai asal-usul gambar, seperti versi asli sebelum diedit atau sejauh mana AI digunakan dalam proses pembuatannya.

Hal tersebut membedakannya dari teknologi seperti Content Credentials yang dikembangkan melalui Coalition for Content Provenance and Authenticity (C2PA). Teknologi tersebut dapat menyertakan informasi mengenai asal-usul dan riwayat perubahan suatu konten apabila informasi itu tersedia dan tercatat.

Google sebelumnya juga telah memungkinkan pengguna memeriksa keberadaan SynthID melalui Gemini. Sementara itu, Chrome dan mesin pencari Google dapat memberikan penanda pada gambar tertentu yang memiliki tanda air tersebut.

Kehadiran SynthID Detector menjadi langkah untuk memperluas akses pemeriksaan konten digital di tengah meningkatnya penggunaan AI generatif. Meski begitu, alat ini belum bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk menentukan apakah sebuah gambar, video, atau audio merupakan hasil buatan AI.

Pengguna tetap perlu memahami bahwa SynthID Detector hanya memeriksa tanda air dari teknologi yang didukung, bukan mendeteksi seluruh konten buatan AI. Karena itu, hasil pemeriksaan perlu dipahami sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan alat tersebut. (DPReview/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *