10 Ciri Anak Neurodivergent yang Perlu Orang Tua Tahu
Ciri anak neurodivergent mulai dari sensitivitas sensorik hingga pola komunikasi.(Dok. MI)

ISTILAH neurodivergent merujuk pada individu dengan cara kerja otak, proses informasi, dan pola komunikasi yang berbeda dari perkembangan umum (neurotypical). Penting untuk dipahami bahwa neurodivergen bukanlah diagnosis medis tunggal, melainkan payung bagi berbagai kondisi seperti Autisme (ASD), ADHD, Disleksia, hingga Tourette syndrome.

Berdasarkan data perkembangan anak, terdapat sepuluh kelompok ciri utama yang sering teramati pada anak neurodivergent. Ciri tersebut meliputi sensitivitas sensorik yang ekstrem terhadap suara atau tekstur, pola komunikasi sosial yang berbeda, serta kebutuhan tinggi terhadap rutinitas. Selain itu, anak mungkin menunjukkan fokus yang tidak konsisten, sangat terdistraksi pada satu hal namun memiliki minat mendalam (hyperfocus) pada topik spesifik seperti angka atau transportasi.

Kesulitan dalam regulasi emosi, seperti meltdown saat kewalahan, serta profil belajar yang tidak merata juga menjadi indikator penting. Sebagian anak mungkin mahir dalam penalaran tingkat tinggi namun kesulitan dalam fungsi eksekutif seperti mengelola waktu atau mengikuti instruksi berurutan.

Pemantauan Berdasarkan Tahapan Usia

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menekankan pentingnya pengamatan sesuai usia untuk mendeteksi kebutuhan dukungan tambahan:







Usia Hal yang Perlu Diamati
1-2 Tahun Respons terhadap nama, penggunaan gestur, dan perkembangan bahasa awal.
3-5 Tahun Kemampuan bermain bersama, fleksibilitas rutinitas, dan regulasi emosi.
6-12 Tahun Organisasi tugas sekolah, interaksi sosial, kemandirian, dan fleksibilitas berpikir.

CDC memberikan peringatan khusus jika anak belum menggunakan gestur sederhana pada usia 12 bulan atau belum menunjuk benda menarik pada usia 18 bulan. Kehilangan kemampuan komunikasi yang sebelumnya sudah dimiliki juga menjadi tanda penting untuk segera melakukan evaluasi profesional.

Perbedaan Autisme dan ADHD

Meskipun sering tumpang tindih, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Pada Autisme, perbedaan komunikasi sosial dan respons sensorik merupakan kriteria diagnostik utama. Sementara pada ADHD, hambatan sosial biasanya muncul akibat impulsivitas atau kesulitan mempertahankan perhatian. Gerakan berulang pada anak autisme sering berfungsi sebagai regulasi diri, sedangkan pada ADHD lebih menonjol sebagai kegelisahan fisik.

Kapan Harus Melakukan Asesmen?

Asesmen disarankan jika pola perilaku anak menetap dan menghambat aktivitas harian. Orang tua diimbau mencatat frekuensi perilaku, membandingkan pengamatan rumah dan sekolah, serta berkonsultasi dengan dokter spesialis tumbuh kembang atau psikolog klinis anak. Perlu diingat bahwa skrining awal bukanlah diagnosis final.

Prinsip Utama: Neurodivergen bukan sinonim dari masalah perilaku. Pendekatan berbasis kekuatan individu jauh lebih bermanfaat daripada sekadar pemberian label. Dukungan dapat diberikan segera tanpa harus menunggu hasil asesmen formal selesai. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *