
Industri pet lifestyle di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan seiring dengan meningkatnya minat masyarakat urban dalam memelihara hewan. Saat ini, kebutuhan pemilik anjing dan kucing tidak lagi terbatas pada pemenuhan pakan, tetapi telah meluas ke berbagai sektor seperti layanan kesehatan, grooming, fotografi, aksesori, hingga pelatihan khusus.
Founder Boox, David Liusman, mengungkapkan bahwa perkembangan ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk menawarkan produk dan layanan yang semakin spesifik. Menurutnya, peningkatan kesadaran masyarakat mendorong brand untuk terus berinovasi menjawab kebutuhan pemilik anabul (anak bulu).
“Sekarang hampir setiap keluarga pasti punya hewan peliharaannya, baik anjing maupun kucing,” ujar David dalam acara The Pawciety Club Chapter II yang berlangsung di Main Atrium PIK Avenue, Jakarta, Sabtu (10/10).
Acara yang diinisiasi oleh Boox melalui unit Inside the Boox ini menghadirkan sekitar 45 tenant dari berbagai kategori. Selain produk makanan dan treats, pengunjung dapat menemukan produk fesyen, perlengkapan bepergian, layanan perawatan, hingga produk kesehatan hewan yang sangat tersegmentasi.
David mencontohkan, kategori makanan saja kini mencakup pilihan yang sangat beragam, mulai dari raw food hingga makanan matang. Begitu pula dengan kebutuhan pendukung seperti camilan, susu, dan suplemen kesehatan yang kini berkembang menjadi segmen bisnis tersendiri. “Dari masing-masing aspek itu pasti ada yang menonjol,” tambahnya.
Pentingnya Edukasi Pemilik Hewan
Di tengah membanjirnya pilihan produk, David menekankan bahwa edukasi bagi pemilik hewan menjadi aspek yang sangat krusial. Ia menilai tren memelihara anabul tidak boleh sekadar mengikuti popularitas di media sosial tanpa disertai pemahaman mendalam mengenai tanggung jawab perawatan.
Melalui The Pawciety Club, Boox berupaya mempertemukan pemilik hewan, komunitas, dan pelaku usaha dalam satu wadah yang menggabungkan unsur belanja, hiburan, dan edukasi. Tujuannya agar pemilik hewan lebih memahami kebutuhan nutrisi, kesehatan, serta pola pelatihan yang tepat bagi peliharaan mereka.
Selain itu, David menyoroti etika membawa hewan ke ruang publik. Seiring dengan semakin banyaknya pusat perbelanjaan yang ramah hewan (pet-friendly), pemilik bertanggung jawab memastikan hewan peliharaannya terlatih dan tidak mengganggu kenyamanan pengunjung lain.
Mendorong Pertumbuhan Bisnis dan Digitalisasi
Penyelenggaraan acara ini juga menjadi sarana bagi para tenant untuk membangun kesadaran merek (brand awareness). David mencatat, pada Chapter I di Kemayoran, acara ini berhasil menarik 5.000 hingga 10.000 pengunjung. Untuk Chapter II di PIK Avenue, ia memproyeksikan jumlah pengunjung yang lebih besar mengingat skala area yang lebih luas.
Rangkaian kegiatan ini akan berlanjut ke The Pawciety Club Chapter III yang direncanakan sebagai acara puncak di Mall of Indonesia (MOI) pada November mendatang, dengan target jumlah tenant dan aktivasi yang lebih masif.
Guna mendukung ekosistem ini, Boox juga mengembangkan layanan pemasaran digital dan pengelolaan media sosial untuk membantu brand menjangkau konsumen secara efektif. Layanan tersebut meliputi strategi branding, desain kreatif, produksi konten, iklan digital, hingga dukungan operasional di marketplace.
“Apalagi perkembangan AI (artificial intelligence) yang sangat meningkat merupakan bagian dari perubahan yang perlu direspons oleh pelaku usaha agar tetap relevan di pasar,” pungkas David. (E-3)
