
HARAPAN dan akses bagi para pemerlu kaki dan tangan tiruan di Indonesia makin terbuka. Salah satunya dihadirkan oleh startup binaan ITB, PT Bangga Teknologi Produktif (KARLA) yang sebelumnya telah berhasil memproduksi tangan prostetik, Ragam Arm.
Tidak berhenti dengan langkah itu, KARLA terus berupaya membuka akses bagi pemerlu perangkat prostetik tersebut. Yang terbaru, perusahaan ini berkolaborasi dengan Empowered Solutions Sdn. Bhd., perusahaan teknologi medis asal Malaysia.
“Kami berupaya memperluas akses terhadap teknologi prostetik di Indonesia. Tujuannya agar para pemerlu kaki dan tangan tiruan ini lebih mudah mendapatkan dan nyaman menggunakannya, sehingga kualitas hidup mereka dapat meningkat,” ungkap Arief Indra Muharam, Co-Founder & CEO KARLA.
Di Indonesia, lanjutnya, pemerlu kaki dan tangan tiruan ini kebanyakan bermasalah dengan kondisi ekonomi. Sebagian besar merupakan pekerja yang mengalami kecelakaan kerja, tidak bisa kerja lagi dan biasanya tidak tercover asuransi kesehatan dan ketenagakerjaan.
Menurut dia, jika yang bisa mendapatkan pendanaan sendiri bisa mengupayakan untuk mendapatkan tangan tiruan, tapi yang tidak harus dibantu. KARLA pun harus ikut berupaya mendapatkan pendanaan.
“Kita membuat teknologi, manufaktur dan membantu mencari pendanaan. Di KARLA, 90% juga dibantu pendanaan. Sampai saat ini, alat bantu disabilitas daksa “Raga Arm” telah digunakan oleh 56 orang,” tandas Arief.
Sementara itu, Mohammad Hafiz, CEO dan Co Founder Empowered Solutions Sdn. Bhd. Malaysia mengakui persoalan akses terhadap perangkat prostetik juga terjadi di negerinya, sama seperti di Indonesia. Layanannya harus didapat masih di perkotaan.
“Dalam kolaborasi ini kami saling belajar. Kami juga akan bawa pengalaman ini ke Malaysia,” tuturnya.
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI
Kolaborasi kedua perusahaan diperkenalkan dalam kegiatan Launching Ceremony Kolaborasi Teknologi Prostetik Indonesia–Malaysia di ITB Innovation Park (IIP) Bandung Technopolis, Jumat (9/10).
Kolaborasi ini akan mengeksplorasi penerapan teknologi prostetik berbasis artificial intelligence (AI) dalam konteks Indonesia, sekaligus membuka peluang pengembangan layanan dan ekosistem teknologi prostetik yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal.
Pengembangan teknologi prostetik menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologinya, tetapi juga dengan bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan dalam sistem pelayanan, ketersediaan tenaga ahli, biaya, infrastruktur, serta kebutuhan
pengguna di masing-masing negara.
“Karena itu, kolaborasi KARLA dan Empowered Solutions tidak diarahkan semata-mata sebagai transfer teknologi, tetapi sebagai proses untuk menguji, mengadaptasi, dan mengembangkan penerapan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan ekosistem Indonesia,” tambah Arief.
Salah satu kolaborasi teknologi awal yang akan diperkenalkan adalah digital workflow untuk pengembangan prosthetic socket, mulai dari 3D scanning, de-identifikasi atau pseudonimisasi sebelum nantinya diproses ke dalam aplikasi AI-assisted socket design, hingga pemilihan komponen prostetik yang sesuai melalui digital procurement workflow.
MEMBANGUN KAPASITAS LOKAL
Empowered Solutions merupakan perusahaan MedTech Malaysia yang mengembangkan solusi berbasis teknologi untuk layanan prostetik dan rehabilitasi, dengan fokus pada personalisasi dan perluasan akses terhadap layanan prostetik.
Perusahaan tersebut mendapatkan dukungan melalui Cradle Fund CIP Spark, program pemerintah Malaysia untuk mendukung perusahaan teknologi tahap awal, serta terlibat dalam kegiatan validasi teknologi dan klinis bersama Cheras Rehabilitation Hospital (CRH) melalui
MRANTI HealthTech Hub Sandbox.
Di Indonesia, kolaborasi dengan KARLA dan mitra terkait diharapkan dapat menjadi tahap awal untuk mengeksplorasi penerapan teknologi tersebut dalam konteks lokal, termasuk pengembangan kapasitas, implementasi teknologi, serta peluang komersialisasi dan
pengembangan layanan.
Bagi KARLA, kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan teknologi asistif dan rehabilitasi yang tidak berhenti pada pengembangan produk, tetapi dapat terhubung dengan kebutuhan pengguna dan ekosistem pelayanan di lapangan.
“Tantangan dalam teknologi prostetik bukan hanya bagaimana membuat teknologinya, tetapi bagaimana memastikan teknologi tersebut dapat digunakan dan memberikan manfaat dalam konteks lokal. Karena itu, kami melihat kolaborasi ini sebagai kesempatan untuk belajar, mengadaptasi, dan membangun model penerapan yang relevan untuk Indonesia,” ujar Arief.
KARLA sendiri merupakan perusahaan teknologi sosial yang mengembangkan teknologi asistif, rehabilitasi, dan adaptive technology dengan pendekatan multidisipliner yang menggabungkan desain, engineering, dan ilmu sosial.
Salah satu produk yang dikembangkan KARLA adalah Raga Arm, perangkat prostetik anggota gerak atas yang dikembangkan untuk meningkatkan akses terhadap teknologi prostetik yang lebih terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Melalui kolaborasi dengan Empowered Solutions, pengalaman pengembangan teknologi di Indonesia dapat dipertemukan dengan teknologi dan pengalaman pengembangan prostetik dari Malaysia.
Kedua pihak melihat peluang kolaborasi bukan hanya dalam pengembangan teknologi, tetapi juga dalam membangun kapasitas lokal, model implementasi, dan jejaring regional yang dapat mendukung perkembangan teknologi prostetik di Asia Tenggara.
“Kami melihat Indonesia memiliki kebutuhan sekaligus potensi yang besar
untuk pengembangan teknologi prostetik. Kolaborasi dengan mitra Indonesia memungkinkan teknologi yang kami kembangkan untuk dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi lokal, bukan sekadar dipindahkan dari satu negara ke negara lain,” tandas Mohammad Hafiz
Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah awal dalam memperkuat hubungan inovasi teknologi antara Indonesia dan Malaysia sekaligus membuka peluang bagi pengembangan teknologi prostetik yang lebih mudah diakses di kawasan.
