
YAYASAN Edukasi Siber Indonesia (YESI) menyambut antusias arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengenai penataan program studi perguruan tinggi. Tujuannya agar lebih relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja, khususnya di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Ketua Pengurus YESI, Julia Rezeki, S.IP., M.Sos., menilai langkah tersebut sejalan dengan perubahan dunia pendidikan yang kini dihadapkan pada perkembangan pesat kecerdasan buatan, robotika, otomatisasi, dan keamanan siber.
“YESI menyambut antusias arahan Menteri Brian Yuliarto. Pendidikan tinggi memang tidak cukup hanya memperbanyak program studi, tetapi harus memastikan lulusannya memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan,” ujarnya di Bandung, Kamis (8/10).
Sebelumnya, Mendikti Brian Yuliarto mendorong perguruan tinggi mengevaluasi penambahan program studi dan mempertimbangkan penggabungan program studi serumpun.
Sementara Wakil Menteri Dikti Stella Christie menjelaskan bahwa arah kebijakan tersebut berkaitan dengan peningkatan mutu lulusan dan kemampuan mereka menghadapi perubahan dunia kerja, termasuk akibat perkembangan AI.
Menurut Julia, penataan program studi bukan berarti menutup ruang bagi lahirnya bidang keilmuan baru. Justru, perguruan tinggi perlu semakin selektif mengembangkan program studi yang benar-benar dibutuhkan.
“Yang diperlukan Indonesia bukan sekadar lebih banyak program studi, melainkan program studi yang bermutu, relevan, dan mampu menghasilkan tenaga profesional yang siap menghadapi perubahan teknologi,” katanya.
YESI SIAPKAN TIGA BIDANG PENDIDIKAN SIBER
Julia mengungkapkan, arah kebijakan kementerian tersebut sejalan dengan rencana YESI mendirikan Politeknik Siber Indonesia (PSI), yang dipersiapkan sebagai perguruan tinggi vokasi berbasis teknologi masa depan.
Dalam rancangan awalnya, PSI akan mengembangkan tiga bidang program sarjana terapan, yakni Kecerdasan Buatan dan Robotik, Sistem Siber Fisik, serta Rekayasa Keamanan Siber. Ketiganya dirancang saling terhubung untuk membangun kompetensi di bidang sistem cerdas, otomatisasi, teknologi industri digital, dan perlindungan keamanan sistem siber.
“Perkembangan AI tidak dapat dipisahkan dari robotika dan keamanan siber. Indonesia membutuhkan lulusan yang bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakan, mengembangkan, dan mengamankannya,” jelas Julia.
Ia menegaskan, PSI masih dalam tahap persiapan pendirian. Seluruh rencana program studi akan mengikuti ketentuan perizinan dan penjaminan mutu pendidikan tinggi.
UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN TINGGI
Julia menambahkan, pengembangan pendidikan vokasi berbasis teknologi memiliki landasan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, khususnya ketentuan mengenai pendidikan vokasi, penyelenggaraan program studi, dan pendirian perguruan tinggi.
YESI yang berkampus di Jalan Babakan Sari No 68, Kiaracondong, Kota Bandung, juga menempatkan penjaminan mutu sebagai prioritas, sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 beserta perubahannya melalui Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2026.
“Bagi YESI, perhatian pemerintah terhadap relevansi pendidikan tinggi merupakan momentum penting. Kami ingin ikut mempersiapkan generasi Indonesia yang menguasai kecerdasan buatan, robotika, dan keamanan siber secara profesional serta bertanggung jawab,” tegasnya.
Dia berharap penataan program studi dapat memperkuat mutu pendidikan sekaligus tetap membuka ruang bagi pengembangan bidang keilmuan baru yang memiliki dasar akademik dan kebutuhan nyata.
“Masa depan Indonesia tidak cukup dibangun dengan kemampuan menggunakan kecerdasan buatan. Kita juga harus mampu menciptakan dan mengendalikan teknologi tersebut untuk kepentingan bangsa,” pungkasnya.
