
PRESIDEN Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA), Aleksander Ceferin, secara resmi memastikan akan kembali mencalonkan diri untuk memimpin badan sepak bola tertinggi di Eropa tersebut untuk periode keempat. Keputusan strategis ini disampaikan langsung di hadapan perwakilan 55 asosiasi sepak bola nasional anggota UEFA dalam pertemuan yang berlangsung di Berlin, Kamis (8/10).
Langkah Ceferin ini menandai perubahan sikap yang signifikan. Sebelumnya, pria asal Slovenia tersebut sempat menyatakan tidak akan mencalonkan diri kembali. Namun, desakan kuat dan dukungan bulat dari seluruh anggota asosiasi nasional membuatnya mempertimbangkan ulang keputusan tersebut.
Dukungan Bulat 55 Asosiasi Nasional
Dalam pernyataannya yang dilansir melalui The Athletic, Ceferin mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kepercayaan yang diberikan oleh para anggota. Ia menekankan bahwa tantangan besar yang dihadapi sepak bola Eropa dalam beberapa tahun terakhir hanya bisa diatasi melalui kerja sama tim yang solid.
“Saya ingin berterima kasih kepada asosiasi-asosiasi nasional atas kepercayaan mereka. Kami menghadapi tantangan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir dan menghadapinya sebagai satu tim. Masih ada pekerjaan penting yang harus dilakukan, karena itu saya menerima permintaan mereka,” ujar Ceferin.
Ceferin menegaskan ambisinya tetap konsisten, yakni menjaga persatuan sepak bola Eropa, memperkuat ekosistem permainan, dan memastikan UEFA berada dalam kondisi terbaik untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Rekam Jejak dan Masa Jabatan Terakhir
Aleksander Ceferin, yang kini berusia 58 tahun, pertama kali menduduki kursi Presiden UEFA pada 2016. Saat itu, ia terpilih untuk menggantikan Michel Platini yang terpaksa mundur setelah dijatuhi larangan beraktivitas di dunia sepak bola oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) akibat kasus korupsi FIFA.
Jika berhasil memenangkan pemilihan pada Kongres UEFA yang dijadwalkan berlangsung di Kazakhstan pada April tahun depan, Ceferin akan menjalani periode empat tahun terakhirnya sebagai pemimpin organisasi tersebut. Sesuai aturan yang berlaku, ini akan menjadi masa jabatan penutup bagi pengacara asal Slovenia itu.
Ketegangan dengan FIFA dan Reformasi Tata Kelola
Selain membahas pencalonan Ceferin, pertemuan di Berlin juga menjadi ajang diskusi mengenai masa depan tata kelola sepak bola dunia, khususnya kepemimpinan FIFA. Sudah menjadi rahasia umum bahwa UEFA merupakan salah satu pihak yang paling vokal dalam mengkritik kebijakan Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Dalam pertemuan tersebut, muncul gagasan mengenai reposisi peran kepemimpinan di level dunia. UEFA mengusulkan agar Presiden FIFA ke depannya lebih berperan sebagai sosok yang “memimpin” secara visioner, bukan sekadar “mengelola” aspek operasional organisasi secara teknis. Hal ini mencerminkan keinginan UEFA untuk melihat adanya perubahan struktural dalam cara organisasi sepak bola global dijalankan.
| Detail Informasi | Keterangan |
|---|---|
| Nama Tokoh | Aleksander Ceferin |
| Jabatan | Presiden UEFA |
| Periode Pencalonan | Keempat (Terakhir) |
| Lokasi Kongres Pemilihan | Kazakhstan |
| Waktu Pemilihan | April Tahun Depan |
(Ant/Z-1)
